![]() |
| Pendidikan dan Stratifikasi Sosial |
PENDAHULUAN
Pendidikan sangat penting agi setiap individu untuk meningkatkan dan menentukan kedudukan sosialnya. Dari status sosial seseorang, dapat menentukan kedudukan sesorang dimata orang lain. Pada saat sekarang ini, ijazah SMA saja tidak cukup untuk mendapat pandangan sosial yang tinggi, bahkan status menjadi seorang sarjanapun belum tentu menjadi tolak ukur mendapat status sosial yang baik. Karena, belum tentu setiap lulusan sarjana memperoleh nilai dan kualifikasi yang baik, banyak faktor yang menentukan hal tersebut seperti mahasiswa yang dituntut untuk cepat menamatkan kuliahnya. Tanpa melihat seberapa cukup ilmu yang dia peroleh. Sangat banyak juga kesenjangan yang terjadi dalam memperebutkan status sosial baik di masyarakat maupun didalam pendidikan. Manyak yang menjadi kasus penyalahgunaan status sosial hingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi peserta didik khususnya disekolah.
S. Nasution (2009 : 27) menyatakan bahwa penggolongan sosial adalah penggolongan masyarakat ke dalam berbagai kategori dari lapisan teratas sampai lapisan paling bawah. Ada penggolongan masyarakat yang sangat ketat dimana seseorang dari strata bawah tidak bisa dengan mudah berpindah ke strata atas namun ada juga penggolongan masyarakat yang fleksibel dimana orang dari golongan strata bawah bisa saja kemudian meningkat menjadi golongan strata atas demikian juga sebaliknya. Ada nya golongan-golongan yang timbul di masyarakat muncul karena adanya perbedaan status di dalamnya. Untuk menentukan stratifikasi sosial dapat diikuti dengan tiga metode, yaitu
- Metode obyektif, dimana stratifikasi ditentukan berdasarkan kriteria yang objektif, yang bisa dilihat dari jumlah pendapatan, tingginya pendidikan, jenis pekerjaan dan kriteria lainnya. Keterangan yang didapat berdasarkan hasil sensus penduduk. Contoh pada masyarakat di Amerika Serikat (1954) dari hasil sensusnya dapat diketahui bahwa ternyata dokter menempati kedudukan tertinggi dalam masyarakat yang sama kedudukan nya dengan gubernur. Guru lebih rendah dari kapten tentara sedangkan penyemir sepatu menduduki tempat paling rendah (Nasution, 2009:27).
- Metode subyektif, dimana masyarakat digolongkan menurut pandangan anggota masyarakat yang menilai dirinya sendiri dalam hierarki kedudukan dalam masyarakat. Metode ini menggolongkan masyarakat sebagaimana dia merumuskan sendiri dan menempatkan sendiri posisinya dalam masyarakat. Kelemahannya adalah kadang tanggapan orang tidak sesuai dengan tanggapan dirinya mengenai posisinya dalam masyarakat. Dengan metode ini bisa diajukan pertanyaan, menurut pendapat saudara termasuk golongan manakah saudar di negeri ini, golongan atas, menengah atau rendah ?
- Metode reputasi, Metode ini memberikan kesempatan pada orang dalam masyarakat itu sendiri untuk menentukan golonan mana-mana yang terdapat dalam masyarakat itu lalu mengidentifikasi anggota masyarakat ke golongan tertentu. Bisa dikatakan tidak ada kriteria yang sama yang berlaku untuk menentukan golongan sosial dalam berbagai masyarakat didunia ini. Semisal kriteria penggolongan di desa berbeda dengan kriteria penggolongn di kota.
Damsar (2012 : 82) menyatakan bahwa golongan
sosial menentukan lingkungan seseorang. Pengetahuan, kebutuhan dan tujuan,
sikap, watak seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.Sistem
golongan sosial menimbulkan batas-batas dan rintangan ekonomi, kultural dan
sosial yang mencegah pergaulan dengan golongan - golongan lain. Orang cenderung
akan mencari pergaulan dikalangan yang dianggap sama golongan sosialnya dengan
dirinya. Dalam hal pendidikan, golongan sosial bisa membatasi dan menentukan
lingkungan belajar anak.
Orang
yang termasuk golongan sosial yang sama cenderung bertempat tinggal di daerah
tertentu. Misalkan orang golongan atas akan tinggal di daerah elite karena
anggota golongan rendah tidak mampu tinggal di sana.Orang akan mencari
pergaulan dikalangan yang dianggap sama golongan sosialnya.Namun demikian ada
kemungkinan terjadi perpindahan sosial.
PEMBAHASAN
TINGKAT PENDIDIKAN DAN TINGKAT GOLONGAN SOSIAL
Dalam
berbagai studi, disebutkan tingkat pendidikan tertinggi yang didapatkan
seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya. Menurut penelitian
memang terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial yang seseorang
dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya, meski demikian pendidikan
yang tinggi tidak dengan sendirinya menjamin kedudukan sosial yang tinggi.
Korelasi antara pendidikan dan golongan sosial antara lain terjadi karena anak
dari golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan pelajarannya sampai perguruan
tinggi.Sementara orang yang termasuk golongan atas beraspirasi agar anaknya
menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi. Orang yang berkedudukan
tinggi, bergelar akademis, yang mempunyai pendapatan besar tinggal dirumah
elite dan merasa termasuk golongan atas akan mengusahakan anknya masuk
universitas dan memperoleh gelar akademis. Sebaliknya anak yang orangtuanya
buta huruf mencari nafkahnya dengan mengumpulkan puntung rokok , tinggal
digubuk kecil, tak dapat diharapkan akan mengusahakan anaknya menikmati
perguruan tinggi.
Ditingkat
SD belum tampak adanya pengaruh
perbedaan golongan sosial, apalagi kalau ada kewajiban belajar yang
mengharuskan semua anak memasukinya, akan tetapi pada tingkat yang lebih tinggi
akan lebih tampak jelas. Dimana persentase anak-anak golongan yang berada atau
berpangkat makin meningkat dengan bertambah tingginya taraf pendidikan dan usia
pelajar.
Ada
2 faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan seorang anak, Yaitu:
- Pendapatan orangtua yang tidak mencukupi.
- Kurangnya perhatian akan pendidikan dikalangan orangtua, banyak anak dari golongan menengah kebawah yang mempunyai hasrat untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi tapi orangtua malah menghalangi karena tidak adanya biaya karena pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Walau demikian ada juga beberapa kasus si anak tetap ingin melanjutkan pendidikannya walaupun dia harus berusaha sendiri untuk membiayai pendidikannya.
GOLONGAN SOSIAL DAN JENIS PENDIDIKAN
Golongan
sosial tidak hanya berpengaruh terhadap tingginya jenjang pendidikan anak
tetapi juga berpengaruh terhadap jenis pendidikan yang dipilih. Tidak semua
orangtua mampu membiayai studi anaknya diperguruan tinggi.
Pada umumnya anak-anak yang
orangtuanya mampu, akan memilih sekolah menengah umum sebagai persiapan untuk
belajar di perguruan tinggi.Sementara orangtua yang mengetahui batas kemampuan
keuangannya akan cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya, dengan
pertimbangan setelah lulus dari kejuruan bisa langsung bekerja sesuai dengan
keahliannya.Dapat diduga sekolah kejuruan akan lebih banyak mempunyai murid
dari glongan rendah daripada yang berasal dari golongan atas.
Karena itu sekolah menengah dipandang lebih tinggi statusnya daripada sekolah kejuruan.Demikian pula dengan mata pelajaran atau bidang studi yang berkaitan dengan perguruan tinggi dipandang mempunyai status yang lebih tinggi , misal matematika, fisika dipandang lebih tinggi daripada Tata buku.Sikap demikian bukan hanya terdapat dikalangan siswa tetapi juga dikalangan orangtua dan guru yang dengan sengaja atau tidak sengaja menyampaikan sikap itu kepada anak-anaknya.
BAKAT DAN GOLONGAN SOSIAL
Berdasarkan
penelitian tentang angka-angka murid menunjukkan bahwa angka-angka yang tinggi
lebih banyak ditemukan pada murid dari golongan sosial yang tinggi.Kegagalan
dalam pelajaran lebih banyak terdapat dikalangan murid dari golongan rendah.
Walaupun dalam tes intelegensi ternyata kelebihan IQ anak-anak golongan atas, namun
tak semua kegagalan dan angka - angka rendah yang kebanyakan dari anak golongan
rendah dapat dijelaskan dengan IQ. Ini menandakan bahwa Iq mengandung unsur
pengaruh lingkungan.Atas pengaruh lingkungan IQ dapat berubah. Lingkungan yang
baik dapat meningkatkan IQ.
Pada
umumnya ada perbedaan bakat atau pembawaan diantara anak-anak dari berbagai
golongan sosial. Disamping itu terdapat pula perbedaan pula perbedaan minat
mereka terhadap kurikulum yang berlaku dan motivasi untuk mencapai angka yang
tertinggi. Guru-guru dapat memperhatikan bahwa banyak anak dari golongan rendah
mempunyai perhatian yang kurang terhadap pelajaran akademis meskipun mempunyai
IQ yang tinggi.Anak-anak dari golongan rendah biasanya turut mencari nafkah keluarga
sehingga mengurangi minat belajar. Selain itu ada kemungkinan perbedan
partisipasi anak-anak dari berbagai golongan sosial dalam berbagai kegiatan
ekstra kurikuler yang memerlukan waktu dan biaya, seperti kegiatan olahraga,
kemping, musik, seni lukis, kepranukaan dan sebagainya, kecuali bila diharuskan
bagi semua siswa.
Guru pun secara tidak sadar cenderung lebih memperhatikan anak-anak dari golongan menengah atas karena guru sendiri menganggap dirinya berada pisisi menengah atas sehingga berbuat sesuai dengan norma itu. Aturan dijalankan sesuai dengan golongan menengah atas sehingga tidak mungkin dapat dipahami oleh anak-anak dari golongan yang lebih rendah
MOBILITAS SOSIAL
Dalam
tiap masyarakat modern terdapat mobilitas sosial atau perpindahan golongan yang
cukup banyak. Perpindahan orang dari golongan sosial yang lain, yang lebih
tinggi atau lebih rendah disebut mobilitas sosial vertical. Mobilitas sosial
ini berarti bahwa individu itu memasuki lingkungan sosial yang berbeda dengan
sebelumnya.
Ada
faktor penghambant mobilitas seperti agama,kesukuan, jenis kelamin dan
sebagainya. Kenaikan golongn sosial dapat diselidiki dengan (a) meneliti
riwayat pekerjaan seseorang, (b) membandingkan kedudukan sosial indidu dengan
kedudukan orang tuanya,. Jadi tidak ada negara yang sepenuhnya “terbuka” atau
“tertutup bagi mobilitas sosial, kerena dalam masyarakat terbuka orang lebih
mudah naik kegolongan sosial yang lebih tinggi.
Boleh
dikatakan bahwa, status sosial seseorang bergantung pada usaha dan kemauannya
untuk meningkatkan golongan sosialnya. Sedangkan dalam masyarakat tertutup
kenaikan sosial mengalami banyak kesulitan, diantaranya ada yang tidak dapat
diatasi oleh individu itu sendiri, karena ditentukan oleh keturunan. Walaupun
dalam madyarakat terbuka setiap orang mencapai tingkat sosial yang paling
tinggi yaitu, terdapat banyak mobilitas, yang naik lebih banyak dari pada yang
turun, namun kenaikan itu terbatas dinegara maju. Faktor lain yang memperluas
mobilitas sosial adalah perluasan dan peningkatan pendidikan untuk memenuhi tenaga
kerja bagi pembangunan yang kian meningkat, khususnya pendidikan tinggi.
Pada umumnya kenaikan status sosial dianggap baik, karena membuktikan keberhasilan usaha seseorang. Namun, ada mensyinyalir aspek negatif, yakni bagi individu timbulnya rasa ketegangan, keangkuhan dengan memamerkan kekayaan, keguncangan kehidupan, keluarga dengan bertambahnya perceraian atau eretakan keluarga. Selain itu, moblitas sosial dapat memeperlemah solidaritas kelompok karena, mereka yang beralih golongan sosial akan menerima norma-norma baru dari golongan yang dimasukinya dengan meninggalkan norma-norma golongan sodial semula.
MOBILITAS SOSIAL MELALUI PENDIDIKAN
Banyak
contoh-contoh yang dapat kita liat disekitar kita, tentang orang yang meningkat
dalam status sosialnya berkat pendidikan yang diperolehnya. Salah satu
contohnya yaitu pada jaman dahulu orang yang menyelesaikan pelajarannya pada
HIS yaitu SD pada jaman Belanda, mempunyai harapan menjadi pegawai dan
mendapatkan kedudukan sosial yang terhormat. Apa lagi kalau ia lulus MULO, AMS,
atau Perguruan Tinggi, maka makin besarlah kesempatannya untuk mendapatkan
kedudukan yang baik. Dengan demikian, masuk golongan sosial menengah atas. Kini
pendidikan SD bahkan SMA hampir tidak ada pengaruhnya dlam mobilitas sosial.
Karena, kini pendidikan tinggi dianggap suatu syarat bagi mobilitas sosal.di samping ijazah perguruan tinggi, ada lagi faktor-faktor lain membawa seseorang kepada kedudukan tinggi dalam pemerintahan atau dunia usaha. Dapat kita pahami bahwa, anak-anak golongan rendah lebih suka mendapat kedudukan sebagai pimpinan perusahaan dibanding anak pemimpin perusahaan itu sendiri. Hubungan pribadi, rekomendasi dari orang yang berkuasa disamping ijazah dan prestasi turut berperan, untuk mendapatkan posisi yang tinggi. Mobilitas sosial bagi individu agak kompleks karena adanya macam-macam faktor yang membantu sesorang meningkat dalam jenjang sosial. Misalnya, sekolah sebagai jalan bagi mobilitas sosial.
PENDIDIKAN MENURUT PERBEDAAN SOSIAL
Pada
umumnya dinegara demokrasi, orang sukar menerima, adanya golongan-golongan
sosial dalam masyarakat. Menurut Undang-Undang semua warga negara sama, dalam
kenyataannya tak dapat disangkal adanya perbedaan sosial itu, yang tampak dari
sikap rakyat biasa terhadap pembesar, orang miskin terhadap orang kaya,
pembantu terhadap majikan, dan lain-lain. Perbedaan itu nyata dalam
symbol-simbol status seperti; mobil mewah, rumah mentereng, perabot luks, dll.
Suka atau tidak suka perbedaan sosial terdapat disepanjang masa, walaupun
sering perbedaan tidak selalu mencolok.
Pendidikan
bertujuan untuk membekali setiap anak agar masing-masing dapat maju dalam
hidupnya mencapai tingkat setinggi-tingginya. Akan tetapi sekolah sendiri tidak
mampu meniadakan, batas-batas tingkat sosial itu. Pendidikan selalu merupakan
bagian dari sistem sosial. Namun, segera timbul keberatan terhadap pendirian
yang demikian. Karena dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi dengan
mengadakan driskriminasi dalam pendidikan. Cara demikian akan memperkuat
penggolongn sosial dan menghambat mobilitas sosial yang diharapkan dari
pendidikan. Harapan ini tidak mudah diwujudkan karena banyak daya-daya lain
duluar sekolah yang menibulkan, stratifikasi sosial yang jauh lebih kuat
daripada pendidikan formal. Pada saat ini sekolah-sekolah meneruskan cita-cita
untuk menebarluaskan ideal dan norma-norma kesamaan dan mobilitas secara
verbal. Disamping adanya daya-daya stratifikasi yang berlangsung terus dalam
masyarakat. Ini berarti bahwa usaha untuk mengajarkan kesamaan dan mobilitas
akan menghadapi kesulitan dalam dunia nyata.
Sebagai
sebuah contoh kasus, pada
kesenjangan sosial yang dialami anak pada suatu jenjang pendidikan yaitu dimana
anak tersebut mendapatkan perlakukan yang tidak adil baik dari guru maupun dari
teman-temannya. Singkatnya, seorang anak yang pintar berhitung dan merupakan
anak dari seorang pejabat, sering menindas anak yang kurang mampu dalam
berhitung tapi sangat ahli dalam melukis/menggambar. Sangat kurang perhatian
dan bimbingan yang didapat oleh anak dari guru di sekolahnya. Sehingga anak
tersebut semakin tidak berminat untuk mendapatkan ilmu lainnya selain yang disukainya. pendidikan
sangat dibutuhkan pada dasarnya oleh kaum marginal atau rakyat yang tingkat
kesejahteraannya rendah sebagai saluran dalam mobilitas sosial mereka. Artinya,
pendidikan adalah suatu corong yang paling memungkinkan bagi masyarakat kelas
rendah kita untuk memiliki kehidupan yang lebih baik ke depannya.
Akses
pendidikan yang terbatas bagi mereka ini yang kemudian akan menjadi hambatan
masyarakat kelas ini untuk berkembang dan maju. Masyarakat kelas bawah telah
menjadi orang nomor dua dalam semua segmen kehidupan berbangsa mereka hari ini.
Hampir di segala bidang, mulai dari akses layanan kesehatan, makanan, hingga
akses pendidikan yang seharusnya bisa menjadi harapan utama masyarakat kelas
ini untuk bergerak ke atas.
Akibatnya
akan sulit kita lihat suasana anak-anak dari kelas ekonomi yang baik bergaul
dengan anak-anak dari kelas ekonomi rendah. Anak-anak akan kesulitan juga untuk
mengadaptasi perbedaan kelas yang ada pada masyarakat. Ada yang berhasil secara
ekonomi dan meraih pendidikan tinggi dan ada sebagian masyarakat kelas ekonomi
rendah yang masih berjuang untuk mewujudkan kesejahteraannya.
Satu hal lagi yang luput adalah pendidikan kita tidak terlalu berupaya untuk menggeneralisir semua anak-anak pada level yang sama. Padahal, seyogianya anak-anak datang ke sekolah dari bermacam-ragam latar belakang. Tidak mungkin semua anak datang ke sekolah dalam kondisi yang ideal dan normal. Melihat kondisi Indonesia hari ini, sangat memungkinkan anak-anak datang ke sekolah dengan berbagai macam latar belakang masalah. Ada yang bermasalah secara ekonomi, ada yang memiliki masalah keluarga, trauma kekerasan dalam rumah tangga, konflik daerah, dan lain sebagainya. Ini kemudian harus dilihat secara berbeda penanganannya oleh institusi pendidikan kita hari ini. Bukannya pendidikan kita untuk semua anak dan tak ada seorang pun yang ditinggalkan.
Urgensi
pendidikan kita hari ini adalah bagaimana kita bisa membangun kualitas
pendidikan yang sama di semua wilayah Indonesia dengan penguatan system
pendidikan dan penguatan kualitas tenaga pendidik. Dengan kualitas yang sama
ini semua anak akan mendapatkan pelayanan pendidikan dengan kualitas yang sama
tanpa adanya kesenjangan kualitas.
KESIMPULAN
Sosial ada karena adanya perbedaan
status di masyarakat maupun didalam pendidikan. Dada bebrapa faktor yang dapat
mempengaruhinya, yaitu : tingkat pendidikan, jenis pendidikan, bakat, mobilitas
sosial, pendidikan menurut perbedaan sosial. Dengan semua ini, kita patut
memahami dan mengontrol sosial dari lingkungan pendidikan sehingga tercapainya
tujuan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
S, Nasution. 2009. Sosiologi
Pendidikan. Jakarta
: Bumi Aksara
Damsar. 2012. Pengantar
Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Kencana


EmoticonEmoticon