04 Desember 2024

Filsafat Pada Masa Thales Dan Setelahnya

Thales
Ilustrasi Filsuf Thales

Thales (625-545 SM)

Thales muncul atas penuturaan sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM. Thales sebagai salah satu dari tujuh orang bijaksana (Seven Wise Men of Greece). Selain itu Thales juga  diberi gelar The Father of Philosophy oleh Aristoteles, karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat. Gelar itu diberikan karena mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar yang jarang diperhatikan orang, yaitu “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?”. Pertanyaan ini sangat mendasar, terlepas apa pun jawabannya. Namun, yang penting adalah pertanyaan itu dijawabnya dengan pendekatan rasional, bukan dengan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal alam adalah air karena air unsur penting bagi setiap makhluk hidup.

Anaximandros (640-546 SM)

Ia adalah orang pertama  yang mengarang suatu traktat dalam kesusasteraan Yunani, dan berjasa  dalam bidang astronomi, geografi. Jadi, ia merupakan orang pertama yang membuat  peta bumi. Usahanya dalam bidang geografi diajukan oleh herakleios, sewarga polis dengan dia. Ia berhasil memimpin sekelompok orang yang membuat kota baru di Apollonia, Yunani. Pemikirannya, dalam memberikan pendapat tentang arche (asas pertama alam semesta),ia tidak menunjuk pada salah satu unsur yang dapat diamati oleh indra, tetapi ia menunjuk dan memilih pada sesuatu yang tidak dapat diamati indra, yaitu apeiron. Sebagai sesuatu yang tak terbatas, abadi sifatnya, tidak berubah-rubah, ada pada segala-galanya, dan sesuatu yang paling dalam.

Heraclitus (535-475 SM)

Ia lahir di Ephesus, sebuah kota perantauan di Asia Kecil, dan merupakan kawan dari Pythagoras dan Xenophanes, akan tetapi lebih tua. Ia mendapat julukan si gelap, karena untuk menelusuri gerak pemikirannya sangat sulit. hanya dengan melihat  fragmen-fragmenny, ia mempunyai kesan berhati tinggi dan sombong sehingga ia mudah mencela kebanyakan manusia untuk mengatakan jahat dan bodoh, juga mencela orang-orang terkemukaka di negeri Yunani. Ia mengemukakan bahwa segala sesuatunya (yang ada itu) sedang menjadi dan selalu berubah. Ucapannya yang terkenal yaitu Panta Rhei Kai Uden Menci artinya segala sesuatunya mengalir bagaikan arus  sungai dan tidak satu orang pun dapat masuk ke sungai yang sama dua kali.

Parmanindes (540-475 SM)

Parmanides lahir di kota Elea, kota perantauan Yunani di Italia Selatan. Ia adalah seorang tokoh relativesme yang penting. Ia dikatakan sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat, bahkan disebut filosof pertama dalam pengertian modern. Sistemnya secara keseluruhan disandarkan pada deduksi logis, tidak seperti Heraclitus, misalnya, yang menggunakan metode intuisi. 

Socrates (469-399 SM)

Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tak dapat di pisahkan satu dengan yang lain. Oeh karna itu, dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Bagi secrotes, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri. Semboyan yang paling di gemarinya adalah apa yang tertera pada Kuil Delphi, yaitu,” kenalilah dirimu sendiri”. Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaiitu dengan menghargai nilai-niai jasmaniah dan rohania yang keduanya tidak dapat di pisahkan karena denga keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.

Plato (427-347 SM)

Ia lahir di Athena, dengan nama asli Aristocles. Ia belajar filsafat dari Socrates, Pythagoras, Heracleitos dan Elia, akan tetapi ajarannya yang paling besar pengaruhnya dari nama Ariston dan ibunya bernama Periktione. Plato berpendapat bahwa manusia berada dalam dua dunia, yaitu dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap, bermacam-macam dan berubah. Sedangkan  dunia ide bersifat tetap, hanya stu macam dan tidak berubah. Dunia pengalaman merupakan bayang-bayang dari dunia ide sedangkan dunia ide merupakan dunia yang sesungguhnya, yaitu dunia realitas.

Aristoteles (384-322 SM)

Setelah Plato meninggal dunia, Aristoteles berasam rekannya Xenokrates meninggalkan Athena karena ia tidak setuju dengan pendapat pengganti Plato di Akademia tentang filsafat. Tiba di Assos, aristoteles dan rekannya mengajar di sekolah Assos. Assos diserang oleh tentara Persi, rajanya (rekan Aristoteles) dibunuh, kemudian Aristoteles dengan kawan-kawannya melarikan diri ke ke Mytiline pulau Lesbos tidak jauh dari Assos.

Arikel lengkap tentang Filsafat Pada Masa Thales dan Setelahnya dapat di Klik Disini


EmoticonEmoticon