01 November 2024

Makalah Siklus Biogeokimia- Apa itu siklus Biogeokimia?

Ilustrasi Biogeokimia

DAUR MATERI (SIKLUS BIOGEOKIMIA)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita masih diberi kesempatan dan dapat melaksanakan segala aktivitas kita. Alhamdulillah dengan berkat Rahmat Allah kami dapat menyelesaikan “makalah” dengan tepat waktu. Shalawat beserta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita semua dari alam jahiliyah kepada alam yang penuh ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana yang telah kita rasakan sekarang ini.

Dalam penulisan makalah ini,Penyusun sadar tidak ada satu karya tulis pun yang luput dari kekhilafan, kritik dan saran sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini kearah yang lebih baik. Semoga makalah ini sangat berguna bagi kita semua.

                                                                                                 

                                                                                           Indonesia,  Maret 2020

                                             

                                                                                                                    Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................  i

DAFTAR ISI .......................................................................................................  ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................  1

A.           Latar Belakang Masalah ......................................................................  1

B.            Rumusan Masalah ................................................................................ 2

C.            Tujuan Penulisan....................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................  3

A.      Pengertian dan Fungsi Daur/ Siklus Biogeokimia ..............................  3

B.      Macam-Macam Daur/ Siklus Biogeokimia .........................................  3

1.             Siklus Hidrologi .........................................................................  3

2.             Siklus Karbon .............................................................................  6

3.             Siklus Oksigen ...........................................................................  9

4.             Siklus Nitrogen ......................................................................... 11

5.             Siklus Posfor.............................................................................. 12

6.             Siklus Belerang ......................................................................... 13

BAB III PENUTUP ........................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17



BAB I
PENDAHULUAN

            A.                Latar Belakang Masalah

Ekologi biasanya didefinisikan sebagai ilmu tentang interaksi antara organisme-organisme dan lingkungannya. Berbagai ekosistem dihubungkan satu sama lain oleh proses-proses biologi, kimia, dan fisika. Masukan dan buangan energi, gas, bahan kimia anorganik dan organik dapat melewati batasan ekosistem melalui perantara faktor meteorologi seperti angin dan presipitasi, faktor geologi seperti air mengalir dan daya tarik dan faktor biologi seperti gerakan hewan. Jadi, keseluruhan bumi itu sendiri adalah ekosistem, dimana tidak ada bagian yang terisolir dari yang lain.

Ekosistem keseluruhannya biasanya disebut biosfer. Biosfer terdiri dari semua organisme hidup dan lingkungan biosfer membentuk “shell” (kulit), relatif tipis di sekeliling bumi, berjarak hanya beberapa mill di atas dan di bawah permukaan air laut. Kecuali energi, biosfer sudah bisa mencukupi dirinya sendiri, semua persyaratan hidup yang lain seperti air, oksigen, dan hara dipenuhi oleh pemakaian dan daur ulang bahan yang telah ada dalam sistem tersebut.

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik.

Semua yang ada di bumi ini baik mahluk hidup maupun benda mati tersusun oleh materi. Materi ini tersusun atas unsure-unsur kimia antara lain karbon (C), Oksigen (O), Nitrogen (N), Hidrogen (H), dan Fosfor (P). Unsur-unsur kimia tersebut atau yang umum disebut materi dimanfaatkan produsen untuk membentuk bahan organik dengan bantuan matahari atau energi yang berasal dari reaksi kimia. Bahan organik yang dihasilkan merupakan sumber energi bagi organisme. Proses makan dan dimakan pada rantai makanan


menngakibatkan aliran materi dari mata rantai yang satu ke mata rantai yang lain. Walaupun mahluk hidup dalam satu rantai makanan mati, aliran materi akan tetap berlangsung terus. Karena mahluk yang mati tersebut diurai oleh dekomposer yang akhirnya akan masuk lagi ke rantai makanan berikutnya. Demikian interaksi ini terjadi secara terus menerus sehingga membentuk suatu aliran energi dan daur materi.

Mahluk hidup, terutama tumbuhan ikut mendapat pengaruh yang cukup signifikan dari suplai hara dan energi. Di alam, semua elemen-elemen kimiawi dapat masuk dan keluar dari sistem untuk menjadi mata rantai siklus yang lebih luas dan bersifat global. Namun demikian ada suatu kecenderungan sejumlah elemen beredar secara terus menerus dalam ekosistem dan menciptakan suatu siklus internal. Siklus ini dikenal sebagai siklus biogeokimia karena prosesnya menyangkut perpindahan komponen bukan jasad (geo), ke komponen jasad (bio) dan kebalikannya. Siklus biogeokimia pada akhirnya cenderung mempunyai mekanisme umpan-balik yang dapat mengatur sendiri (self regulating) yang menjaga siklus itu dalam keseimbangan.

 

      B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa pengertian dan fungsi siklus biogeokimia?

2.      Apasaja pembagian siklus biogeokimia?

 

      C.    TUJUAN PENULISAN

1.      Untuk mengetahui pengertian dan fungsi siklus biogeokimia

2.      Untuk mengetahui pembagian siklus biogeokimia



BAB II
PEMBAHASAN

            A.                Pengertian dan Fungsi Daur/ Siklus Biogeokimia

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup dapat juga disebut dengan siklus materi atau daur biogeokimia. Suatu ekosistem, materi pada setiap tingkat trofik tidak hilang, namun materi berupa unsur-unsur penyusun bahan organik tersebut didaur-ulang.

Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam komponen biotik melalui udara, tanah, dan air. Daur ulang materi tersebut melibatkan makhluk hidup dan batuan sehingga disebut siklus materi. Adapun fungsi siklus materi, yaitu sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga.

 

            B.                 Pembagian  Daur/ Siklus Biogeokimia

Terdapat banyak macam materi dalam ekosistem yang mengalami perputaran siklus, namun ada 6 macam siklus materi yang umum dikenal, yaitu:

1.                  Siklus Hidrologi

Air (H2O) merupakan sumber daya terbatas, padahal air diperlukan mutlak untuk mendukung keterlanjutan kehidupan di bumi dan juga sangat penting bagi semua sector sosio-ekonomi. Salah satu fenomena yang berkaitan dengan air di seluruh bumi dan dipelajari dalam kajian ilmu pengetahuan adalah siklus hidrologi. Siklus hidrologi merupakan perputaran air di atmosfer dengan perubahan berbagai bentuk dan kembali pada bentuk awal.

Hal ini menunjukkan bahwa volume air di permukaan bumi sifatnya tetap. Meskipun tetap dengan perubahan iklim dan cuaca mengakibatkan volume air dalam bentuk tertentu berubah, tetapi secara keseluruhan volume air adalah tetap. Siklus air secara alami berlangsung cukup panjang dan cukup lama. Sulit untuk


menghitung secara tepat berapa lama air menjalani siklusnya, karena sangat tergantung pada kondisi geografis, pemanfaatan oleh manusia dan sejumlah faktor lain. Siklus air atau siklus hidrologi melewati beberapa proses secara umum, yakni evaporasi, transpirasi, kondensasi dan presipitasi.

a.         Evaporasi

Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfer. Sekitar 95.000 mil kubik air menguap ke angkasa setiap tahunnya. Hampir 80.000 mil kubik menguapnya dari lautan. Hanya 15.000 mil kubik berasal dari daratan, seperti: danau, sungai, dan lahan yang basah lainnya.

b.         Transpirasi (penguapan dari tumbuhan)

Uap air juga dikeluarkan dari daun-daun tumbuhan melalui sebuah proses yang dinamakan transpirasi. Setiap hari tanaman yang tumbuh secara aktif melepaskan uap air 5 sampai 10 kali dari banyak air yang dapat ditahannya.

c.         Kondensasi

Ketika uap air menguap, melalui arus udara/ angin awan-awan itu berkumpul di suatu tempat, lalu kemudian akibat tekanan udara terjadi perubahan suhu yang mengakibatkan awan tersebut berkondensasi atau menjadi jenuh air dan dapat turun sebagai hujan (Presipitasi).

d.         Presipitasi

Presipitasi merupakan pembentukan hujan, salju dan hujan batu (hail), yang bergantung pada suhu disekitarnya.


Gambar 1. Siklus Hidrologi
                                                

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian di intersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:

1)        Evaporasi/ transpirasi: Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. Kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.

2)        Infiltrasi/ Perkolasi kedalam tanah: Air bergerak kedalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.

3)        Air Permukaan: Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau, makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.

 

2.                  Siklus Karbon

                    Karbon adalah bagian yang penting dalam menunjang kehidupan di bumi, karena karbon berperan dalam strutur biokimia dan nutrisi pada semua sel makhluk hidup. Proses-proses perpindahan karbon di biosfer sama dengan proses perpindahan karbon di atmosfer, karena semua proses yang terjadi di atmosfer harus melalui biosfer terlebih dahulu. Siklus karbon terjadi dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).


    Gambar 2. Siklus Karbon
                                              

                    Karbon dapat diambil dari atmosfer dengan berbagai cara, antara lain:

a.  Melalui proses fotosintesis: Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesis untuk mengubah karbondioksida menjadi karbohidrat dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Karbon pada proses ini akan banyak diserap oleh tumbuhan yang baru saja tumbuh atau pepohonan pada hutan yang sedang direboisasi sehingga membutuhkan pertumbuhan yang cepat.

12H2O + 6CO2 + cahaya C6H12O6 (glukosa) + 6O2 + 6H2O.

b.      Melalui sirkulasi termohalin: Pada permukaan laut di daerah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan karbondioksida lebih mudah larut dalam air. Karbondioksida yang larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat menuju ke dalam laut. Dilaut bagian atas, pada daerah yang poduktivitasnya tinggi organisme membentuk cangkang karbonat dengan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini menyebabkan aliran karbon menuju ke bawah.

c.   Melalui pelapukan batu silikat: Proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer seperti dua proses sebelumnya. Pelapukan batuan silikat tidak memilki efek yang terlalu besar terhadap karbondioksida pada atmosfer karena ion karbonat pada atmosfer yang terbentuk terbawa oleh air laut dan selanjutnya akan dipakai untuk membuat karbonat laut.

 

Karbon dapat kembali lagi ke atmosfer dengan beragai cara pula, antara lain:

1)        Melalui respirasi tumbuhan dan binatang: Proses ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga penguraian glukosa menjadi karbohidrat dan air.

2)  Melalui pembusukan, tumbuhan, dan binatang: Jamur dan bakteri menguraikan senyawa karbon pada tumbuhan dan binatang yang mati dan mengubah karbon menjadi karbondioksida jika tersedia oksigen atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen.

3)  Melalui pembakaran material organik: Proses ini berlangsung dengan cara mengoksidasi karbon yang terkandung pada material organik menjadi karbondioksida. Pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam akan melepaskan karbon yang tersimpan di dalam geosfer, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida di atmosfer semakin bertambah.

4)    Melalui produksi semen: Salah satu komponen semen, yaitu kapur atau kalium oksida dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur yang akan menghasilkan karbondioksida dalam jumlah banyak.

5)  Melalui erupsi vulkanik: Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer. Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbondioksida, dan belerang. Jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer hampir sama dengan jumlah karbondioksida yang hilang dari atmosfer akibat pelapukan batuan silikat.

6)        Melalui pemanasan permukaan laut: Dipermukaan laut, ketika air laut menjadi lebih hangat, karbondioksida yang larut dalam air akan dilepas ke atmosfer sebagai uap air.

Lautan mengandung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer. Laut mengandung sekitar 36000 GtC ion karbonat yang merupakan kandungan umum. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan karbon-karbon atau karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksi yang terjadi pada air. Di ekosistem air, pertukaran CO2 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung.

Karbondioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO2 di air.

Proses pertukaran karbon antara atmosfer dengan lautan diawali dengan pelepasan karbon ke atmosfer yang terjadi di daerah upwelling (lautan bagian atas), kemudian pada daerah downwelling (laut bagian bawah), karbon berpindah dari atmosfer kembali ke lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk dengan reaksi kimia: CO2 + H2O H2CO3

Reaksi tersebut memiliki sifat dua arah untuk mencapai suatu kesetimbangan kimia. Reaksi lain yang penting dalam mengontrol nilai pH larutan adalah pelepasan ion hidrogen dan bikarbonat, dimana dapat menyebabkan perubahan yang besar pada pH, yaitu: H2CO3H+ + HCO3-

Terdapat lebih banyak persenyawaan karbon yang dikenal daripada persenyawaan unsur lain, kecuali hidrogen. Kebanyakan dikenal sebagai zat-zat kimia organik. Keistimewaan karbon yang unik adalah kecenderungannya secara alamiah mengikat dirinya sendiri dalam rantai-rantai atau cincin-cincin, tidak hanya dengan ikatan tunggal, C-C, tetapi juga mengandung ikatan ganda, C=C atau C≡C.

 

3.                  Siklus Oksigen

Semua kelompok molekul struktural yang terdapat pada organisme hidup, seperti protein, karbohidrat dan lemak, mengandung oksigen. Demikian pula senyawa anorganik yang terdapat pada cangkang, gigi dan tulang hewan. Oksigen dalam bentuk O2 digunakan pada respirasi sel oleh hampir semua makhluk hidup. Gas oksigen menduduki 21,0 % volume dan 23,1 % massa (sekitar 1015 ton) atmosfer.

Bumi memiliki ketidaklaziman pada atmosfernya dibandingkan planet-planet lainnya dalam sistem tata surya karena ia memiliki konsentrasi gas oksigen yang tinggi di atmosfernya. Namun, O2 yang berada di planet-planet selain bumi hanya dihasilkan dari radiasi ultraviolet yang menimpa molekul-molekul beratom oksigen, misalnya karbondioksida. Konsentrasi gas oksigen di bumi yang tidak lazim ini merupakan akibat dari siklus oksigen. Siklus biogeokimia ini menjelaskan pergerakan oksigen di dalam dan di antara tiga reservoir utama bumi, yaitu atmosfer, biosfer dan litosfer.


Gambar 3. Siklus Oksigen
                                                 

Faktor utama yang mendorong siklus oksigen ini adalah fotosintesis. Fotosintesis melepaskan oksigen ke atmosfer, manakala respirasi dan proses pembusukan menghilangkannya dari atmosfer. Dalam keadaan kesetimbangan, laju produksi dan konsumsi oksigen adalah sekitar 1/2000 keseluruhan oksigen yang ada di atmosfer setiap tahunnya. Oksigen bebas juga terdapat dalam air sebagai larutan. Peningkatan kelarutan O2 pada temperatur yang rendah memiliki implikasi yang besar pada kehidupan laut.

Lautan di sekitar kutub bumi dapat menyokong kehidupan laut yang lebih banyak oleh karena kandungan oksigen yang lebih tinggi. Air yang terkena polusi dapat mengurangi jumlah O2 dalam air tersebut. Para ilmuwan menaksir kualitas air dengan mengukur kebutuhan oksigen biologis atau jumlah O2 yang diperlukan untuk mengembalikan konsentrasi oksigen dalam air itu seperti semula. Oksigen secara cepat bersenyawa, membentuk oksida-oksida, seperti dengan karbon dalam respirasi aerobik atau dengan karbon dan hidrogen dalam perubahan bahan bakar fosil seperti dengan metana.

CH4 + 2O2 CO2 + 2H2

Suatu aspek yang sangat penting dari siklus di stratosfer yaitu proses pembentukan ozon, O3. Ozon membentuk lapisan tipis di stratosfer yang berfungsi sebagai filter dari radiasi ultraviolet, dengan demikian dapat menjaga kehidupan di bumi dari kerusakan yang disebabkan oleh radiasi tersebut. Siklus Oksigen disempurnakan atau diakhiri ketika unsur oksigen masuk kembali ke atmosfer dalam bentuk gas. Hanya ada satu cara yang signifikan dimana hal tersebut terjadi, yaitu melalui fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan.

 

4.                  Siklus Nitrogen

Nitrogen merupakan unsur terbesar yang terdapat di atmosfer, yaitu ± 78 % dari udara. Nitrogen di alam umumnya berupa gas terutama dalam bentuk sebagai dinitrogen (N2) dan dalam jaringan tubuh organisme dalam bentuk asam amino dan asam nukleat. Dalam proses kehidupan, tumbuhan sebagai produsen hanya mampu menyerap nitrogen dalam bentuk ion nitrit (NO3-) dan amonium (NH4+) dari tanah.

Nitrogen bebas dapat ditambat/ difiksasi terutama oleh bakteri (contoh: Marsiella crenatta) yang terdapat pada akar tumbuhan legum, selain itu dapat juga dilakukan oleh beberapa jenis bakteri (Azotobacter sp.) yang bersifat aerob dan (Clostridium sp.) yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen). Nitrogen yang diikat biasanya akan dirubah ke dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri.

Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem. Nitrogen bebas di udara dalam bentuk N2 dapat dioksidasi oleh karena pengaruh suhu saat terjadinya proses presipitasi menjadi nitrit (NO3-) ataupun amonium (NH4+) dan kemudian turun sebagai air hujan.


Gambar 4. Siklus Nitrogen
                                                          

5.                  Siklus Fosfor

Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut.

Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus-menerus. Siklus fosfor, bersifat kritis karena fosfor secara umum merupakan hara yang terbatas dalam ekosistem. Tidak ada bentuk gas dari fosfor yang stabil, oleh karena itu siklus fosfor adalah “endogenik”. Dalam geosfer, fosfor terdapat dalam jumlah besar dalam mineral-mineral yang sedikit sekali larut seperti hidroksi apilit, garam kalsium. Adapun gambar dari siklus fosfor adalah sebagai berikut:

Gambar 5. Siklus Fosfor
                                                         

Fosfor terlarut dari mineral-mineral fosfat dan sumber-sumber lainnya, diserap oleh tanaman dan tergabung dalam asam nukleat yang menyusun material genetik dalam organisme. Mineralisasi dari biomassa oleh pembusukan/ penguraian mikroba mengembalikan fosfor kepada larutan garamnya yang kemudian dapat mengendap sebagai bahan mineral. Sejumlah besar dari mineral-mineral fosfat digunakan sebagai bahan pupuk, industri kimia, dan “food additives”. Fosfor merupakan salah satu komponen dari senyawa-senyawa sangat toksit, terutama insektisida organofosfat.

 
6.                  Siklus Belerang

Secara alami, belerang/ sulfur terkandung dalam tanah dalam bentuk mineral tanah. Ada juga yang berasal dari gunung berapi dan sisa pembakaran minyak bumi dan batubara. Sulfur direduksi oleh bakteri menjadi sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam bentuk sulfur dioksida atau hidrogen sulfida. Melalui proses aerobik tumbuhan mendapat sulfur dari dalam tanah dalam bentuk sulfat (SO4). Kemudian tumbuhan tersebut dimakan hewan sehingga sulfur berpindah ke hewan. Lalu hewan dan tumbuhan mati diuraikan menjadi gas H2S atau menjadi sulfat lagi.


Gambar 6. Siklus Belerang
                                                          

Setiap daur melibatkan unsur organisme untuk membantu menguraikan senyawa-senyawa menjadi unsur-unsur. Dalam daur belerang misalnya, mikroorganisme yang bertanggung jawab dalam setiap trasformasi adalah sebagai berikut:

a.    H2S S SO4 Bakteri sulfur tak berwarna, hijau dan ungu.

b.    SO4 H2S (Reduksi sulfat anaerobik), bakteri desulfovibrio.

c.    H2S SO4 (Pengokaidasi sulfide aerobik), bakteri thiobacilli.

d.    S organik SO4 + H2S masing-masing mikroorganisme heterotrofik aerobik dan anaerobik.

Selain itu, ada beberapa jenis bakteri terlibat dalam daur sulfur, antara lain Desulfomaculum dan Desulfibro yang akan mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S). Kemudian H2S digunakan bakteri fotoautotrof aerob seperti Chromatium dan melepaskan sulfur dan oksigen. Sulfur dioksida menjadi sulfat oleh bakteri kemolitotrof seperti Thiobacillus.



BAB III
PENUTUP

            A.                Kesimpulan

Pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup dapat juga disebut dengan siklus materi atau daur biogeokimia. Suatu ekosistem, materi pada setiap tingkat trofik tidak hilang, namun materi berupa unsur-unsur penyusun bahan organik tersebut didaur-ulang. Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam komponen biotik melalui udara, tanah, dan air. Daur ulang materi tersebut melibatkan makhluk hidup dan batuan sehingga disebut siklus materi.

Adapun fungsi siklus materi, yaitu sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga. Terdapat banyak macam materi dalam ekosistem yang mengalami perputaran siklus, namun ada 6 macam siklus materi yang umum dikenal, yaitu: siklus hidrologi, siklus karbon, siklus oksigen, siklus nitrogen, siklus fosfor dan siklus belerang.

 

            B.                 Saran

Mahasiwa dalam pembuatan sebuah makalah perlu mempunyai banyak referensi atau rujukan yang dapat menunjang proses pembuatan makalah tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta: Penerbit ANDI.

Emanuel, A. P. 1997. Biologi. Jakarta: PT Galaxy Puspa Mega.

Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Bandar Lampung: Bumi Aksara.

Kimball. 1999. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Kilham, K. 1996. Soil Ecology. United Kingdom: Cambridge University Press.

Odum, Eugene. 1993. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Resosoedarmo, S., K. Kartaminata, dan A. Soegiarto. 1986. Pengantar Ekologi. Bandung: Remadja Rosda Karya.





EmoticonEmoticon