![]() |
| Ilustrasi Biogeokimia |
DAUR MATERI (SIKLUS BIOGEOKIMIA)
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita masih diberi
kesempatan dan dapat melaksanakan segala aktivitas kita. Alhamdulillah dengan
berkat Rahmat Allah kami dapat menyelesaikan “makalah” dengan tepat waktu. Shalawat beserta salam
tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita semua dari
alam jahiliyah kepada alam yang penuh ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagaimana yang telah kita rasakan sekarang ini.
Dalam penulisan makalah ini,Penyusun sadar tidak ada satu karya tulis
pun yang luput dari kekhilafan, kritik dan saran sangat penyusun harapkan demi
kesempurnaan makalah ini kearah yang lebih baik. Semoga makalah ini sangat
berguna bagi kita semua.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A.
Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah ................................................................................
2
C.
Tujuan
Penulisan....................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 3
A. Pengertian dan Fungsi Daur/ Siklus
Biogeokimia .............................. 3
B. Macam-Macam Daur/ Siklus Biogeokimia ......................................... 3
1.
Siklus Hidrologi ......................................................................... 3
2.
Siklus Karbon ............................................................................. 6
3.
Siklus Oksigen ........................................................................... 9
4.
Siklus Nitrogen
......................................................................... 11
5.
Siklus
Posfor..............................................................................
12
6.
Siklus Belerang
......................................................................... 13
BAB III PENUTUP ...........................................................................................
16
DAFTAR PUSTAKA
........................................................................................
17
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Ekologi biasanya didefinisikan sebagai ilmu tentang
interaksi antara organisme-organisme dan lingkungannya. Berbagai ekosistem dihubungkan
satu sama lain oleh proses-proses biologi, kimia, dan fisika. Masukan dan buangan energi, gas, bahan kimia
anorganik dan organik dapat melewati batasan ekosistem melalui perantara faktor
meteorologi seperti angin dan presipitasi, faktor geologi seperti air mengalir
dan daya tarik dan faktor biologi seperti gerakan hewan. Jadi, keseluruhan bumi
itu sendiri adalah ekosistem, dimana tidak ada bagian yang terisolir dari yang
lain.
Ekosistem keseluruhannya biasanya disebut biosfer. Biosfer
terdiri dari semua organisme hidup dan lingkungan biosfer membentuk “shell”
(kulit), relatif tipis di sekeliling bumi, berjarak hanya beberapa mill di atas dan di bawah
permukaan air laut. Kecuali energi, biosfer sudah bisa mencukupi dirinya
sendiri, semua persyaratan hidup yang lain seperti air, oksigen, dan hara dipenuhi oleh
pemakaian dan daur ulang bahan yang telah ada dalam sistem tersebut.
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa
unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar makhluk
hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah
siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik
dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya
melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan
abiotik.
Semua yang ada di bumi ini baik mahluk hidup maupun benda mati tersusun
oleh materi. Materi ini tersusun atas unsure-unsur kimia antara lain karbon
(C), Oksigen (O), Nitrogen (N), Hidrogen (H), dan Fosfor (P). Unsur-unsur kimia
tersebut atau yang umum disebut materi dimanfaatkan produsen untuk membentuk
bahan organik dengan bantuan matahari atau energi yang berasal dari reaksi
kimia. Bahan organik yang dihasilkan merupakan sumber energi bagi organisme.
Proses makan dan dimakan pada rantai makanan
menngakibatkan
aliran materi dari mata rantai yang satu ke mata rantai yang lain. Walaupun
mahluk hidup dalam satu rantai makanan mati, aliran materi akan tetap
berlangsung terus. Karena mahluk yang mati tersebut diurai oleh dekomposer yang
akhirnya akan masuk lagi ke rantai makanan berikutnya. Demikian interaksi ini
terjadi secara terus menerus sehingga membentuk suatu aliran energi dan daur
materi.
Mahluk hidup, terutama tumbuhan ikut mendapat pengaruh yang cukup
signifikan dari suplai hara dan energi. Di alam, semua elemen-elemen kimiawi
dapat masuk dan keluar dari sistem untuk menjadi mata rantai siklus yang lebih
luas dan bersifat global. Namun demikian ada suatu kecenderungan sejumlah
elemen beredar secara terus menerus dalam ekosistem dan menciptakan suatu
siklus internal. Siklus ini dikenal sebagai siklus biogeokimia karena prosesnya
menyangkut perpindahan komponen bukan jasad (geo), ke komponen jasad (bio) dan
kebalikannya. Siklus biogeokimia pada akhirnya cenderung mempunyai mekanisme
umpan-balik yang dapat mengatur sendiri (self regulating) yang menjaga siklus
itu dalam keseimbangan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian
dan fungsi siklus biogeokimia?
2.
Apasaja
pembagian siklus biogeokimia?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Untuk
mengetahui pengertian dan fungsi siklus biogeokimia
2.
Untuk
mengetahui pembagian siklus biogeokimia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Fungsi Daur/ Siklus Biogeokimia
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi
yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi
dasar makhluk hidup dan tak hidup. Pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara
komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup dapat juga disebut dengan siklus
materi atau daur biogeokimia.
Suatu ekosistem, materi pada setiap tingkat trofik tidak hilang, namun materi
berupa unsur-unsur penyusun bahan organik tersebut didaur-ulang.
Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam komponen biotik melalui
udara, tanah, dan air. Daur ulang materi tersebut melibatkan makhluk hidup dan
batuan sehingga disebut siklus materi. Adapun fungsi siklus materi, yaitu sebagai siklus materi yang
mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada
di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan
hidup di bumi dapat terjaga.
B. Pembagian Daur/ Siklus Biogeokimia
Terdapat banyak macam materi dalam
ekosistem yang mengalami perputaran siklus, namun ada 6 macam siklus materi
yang umum dikenal, yaitu:
1. Siklus Hidrologi
Air
(H2O) merupakan sumber daya terbatas, padahal air diperlukan mutlak
untuk mendukung keterlanjutan kehidupan di bumi dan juga sangat penting
bagi semua sector sosio-ekonomi.
Salah satu fenomena yang berkaitan dengan air di seluruh bumi dan dipelajari
dalam kajian ilmu pengetahuan adalah siklus
hidrologi. Siklus hidrologi merupakan perputaran
air di atmosfer dengan perubahan berbagai bentuk dan kembali pada bentuk awal.
Hal
ini menunjukkan bahwa volume air di permukaan bumi sifatnya tetap. Meskipun
tetap dengan perubahan iklim dan cuaca
mengakibatkan volume air dalam bentuk tertentu berubah, tetapi secara
keseluruhan volume air adalah tetap. Siklus air secara alami berlangsung cukup panjang dan cukup lama. Sulit untuk
menghitung secara tepat berapa lama
air menjalani siklusnya, karena
sangat tergantung pada kondisi geografis, pemanfaatan oleh manusia dan sejumlah faktor lain. Siklus air atau siklus hidrologi melewati
beberapa proses secara umum, yakni evaporasi,
transpirasi, kondensasi dan presipitasi.
a.
Evaporasi
Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan
molekul-molekul air memiliki cukup
energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak
terlihat di atmosfer. Sekitar
95.000 mil kubik air menguap ke angkasa setiap tahunnya. Hampir 80.000 mil kubik menguapnya dari lautan. Hanya 15.000
mil kubik berasal dari daratan, seperti: danau, sungai, dan lahan yang basah
lainnya.
b.
Transpirasi (penguapan dari tumbuhan)
Uap air juga dikeluarkan dari daun-daun tumbuhan
melalui sebuah proses yang dinamakan
transpirasi. Setiap hari tanaman yang tumbuh secara aktif melepaskan uap air 5 sampai 10 kali dari banyak air yang
dapat ditahannya.
c.
Kondensasi
Ketika uap air menguap, melalui arus udara/ angin awan-awan itu berkumpul di suatu tempat, lalu kemudian akibat tekanan udara
terjadi perubahan
suhu yang mengakibatkan awan tersebut
berkondensasi atau menjadi jenuh air dan dapat turun sebagai hujan
(Presipitasi).
d.
Presipitasi
Presipitasi merupakan pembentukan hujan, salju dan
hujan batu (hail), yang
bergantung pada suhu
disekitarnya.
![]() |
| Gambar 1. Siklus Hidrologi |
Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi
dapat berevaporasi kembali ke atas atau
langsung jatuh yang kemudian di intersepsi
oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah
mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara
yang berbeda:
1)
Evaporasi/ transpirasi:
Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. Kemudian akan menguap ke angkasa
(atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan
jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan,
salju, es.
2)
Infiltrasi/ Perkolasi
kedalam tanah: Air bergerak kedalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air
tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau
air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah
hingga air tersebut memasuki kembali
sistem air permukaan.
3)
Air Permukaan: Air bergerak diatas
permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau,
makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah
dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama
lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran
sungai menuju laut.
2. Siklus Karbon
Karbon adalah bagian yang penting dalam menunjang kehidupan di bumi, karena karbon berperan dalam strutur biokimia dan nutrisi pada semua sel makhluk hidup. Proses-proses perpindahan karbon di biosfer sama dengan proses perpindahan karbon di atmosfer, karena semua proses yang terjadi di atmosfer harus melalui biosfer terlebih dahulu. Siklus karbon terjadi dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).
![]() |
| Gambar 2. Siklus Karbon |
Karbon
dapat diambil dari atmosfer dengan berbagai cara, antara lain:
a. Melalui proses fotosintesis: Ketika matahari bersinar, tumbuhan
melakukan fotosintesis untuk mengubah karbondioksida
menjadi karbohidrat dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Karbon pada proses ini akan banyak diserap oleh
tumbuhan yang baru saja tumbuh atau pepohonan pada
hutan yang sedang direboisasi sehingga membutuhkan pertumbuhan yang cepat.
12H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 + 6H2O.
b. Melalui sirkulasi termohalin: Pada permukaan laut di daerah kutub, air
laut menjadi lebih dingin dan karbondioksida lebih
mudah larut dalam air. Karbondioksida yang larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa
air di permukaan yang lebih berat menuju ke
dalam laut. Dilaut bagian atas, pada daerah yang poduktivitasnya tinggi
organisme membentuk cangkang
karbonat dengan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini menyebabkan aliran karbon menuju ke
bawah.
c. Melalui pelapukan batu silikat: Proses ini tidak memindahkan karbon ke
dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer
seperti dua proses sebelumnya. Pelapukan batuan silikat tidak memilki
efek yang terlalu besar terhadap karbondioksida pada atmosfer karena ion
karbonat pada atmosfer yang
terbentuk terbawa oleh air laut dan selanjutnya akan dipakai untuk membuat
karbonat laut.
Karbon
dapat kembali lagi ke atmosfer dengan beragai cara pula, antara lain:
1)
Melalui respirasi tumbuhan dan binatang: Proses ini merupakan reaksi eksotermik dan
termasuk juga penguraian glukosa menjadi karbohidrat
dan air.
2) Melalui pembusukan, tumbuhan, dan binatang: Jamur dan bakteri menguraikan senyawa
karbon pada tumbuhan dan binatang yang mati dan
mengubah karbon menjadi karbondioksida jika
tersedia oksigen atau menjadi metana
jika tidak tersedia oksigen.
3) Melalui pembakaran material organik: Proses ini berlangsung dengan cara
mengoksidasi karbon yang terkandung pada material
organik menjadi karbondioksida. Pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara,
minyak bumi, dan gas alam akan melepaskan karbon yang tersimpan di dalam geosfer, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida
di atmosfer semakin bertambah.
4) Melalui produksi semen: Salah satu komponen semen, yaitu kapur
atau kalium oksida dihasilkan dengan cara memanaskan
batu kapur yang akan menghasilkan karbondioksida dalam jumlah banyak.
5) Melalui erupsi vulkanik: Erupsi vulkanik
atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer. Gas-gas tersebut
termasuk uap air, karbondioksida, dan belerang. Jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer hampir sama
dengan jumlah karbondioksida yang hilang dari atmosfer
akibat pelapukan batuan silikat.
6)
Melalui pemanasan permukaan laut: Dipermukaan laut, ketika air laut menjadi
lebih hangat, karbondioksida yang larut dalam
air akan dilepas ke atmosfer sebagai uap air.
Lautan mengandung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan bumi, namun demikian
laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer. Laut mengandung sekitar 36000
GtC ion karbonat yang merupakan kandungan umum.
Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan karbon-karbon atau
karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksi yang terjadi pada air. Di
ekosistem air, pertukaran CO2 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung.
Karbondioksida
berikatan dengan air membentuk
asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi
makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme
heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang
mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat
dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO2 di air.
Proses pertukaran
karbon antara atmosfer dengan lautan diawali dengan pelepasan karbon ke atmosfer yang terjadi di daerah upwelling (lautan
bagian atas), kemudian pada daerah downwelling (laut
bagian bawah), karbon berpindah dari atmosfer kembali ke lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat
terbentuk dengan reaksi kimia: CO2 + H2O → H2CO3
Reaksi tersebut
memiliki sifat dua arah untuk mencapai suatu kesetimbangan kimia. Reaksi lain yang penting dalam mengontrol nilai
pH larutan adalah pelepasan ion hidrogen dan bikarbonat,
dimana dapat menyebabkan perubahan yang besar pada pH, yaitu: H2CO3H+ + HCO3-
Terdapat lebih banyak persenyawaan karbon
yang dikenal daripada persenyawaan unsur
lain, kecuali hidrogen.
Kebanyakan dikenal sebagai zat-zat kimia organik. Keistimewaan
karbon yang unik adalah kecenderungannya secara alamiah mengikat dirinya sendiri dalam rantai-rantai atau
cincin-cincin, tidak hanya dengan ikatan tunggal, C-C, tetapi juga
mengandung ikatan ganda, C=C atau C≡C.
3.
Siklus
Oksigen
Semua
kelompok molekul struktural yang terdapat pada organisme hidup, seperti protein, karbohidrat dan lemak, mengandung
oksigen. Demikian pula senyawa anorganik yang terdapat pada cangkang, gigi
dan tulang hewan. Oksigen dalam bentuk O2 digunakan pada respirasi sel oleh
hampir semua makhluk hidup. Gas
oksigen menduduki 21,0 %
volume dan 23,1 %
massa (sekitar 1015 ton)
atmosfer.
Bumi
memiliki ketidaklaziman pada atmosfernya dibandingkan planet-planet lainnya
dalam sistem tata surya karena ia memiliki
konsentrasi gas oksigen yang tinggi di atmosfernya. Namun, O2 yang berada di planet-planet selain bumi
hanya dihasilkan dari radiasi ultraviolet yang
menimpa molekul-molekul beratom oksigen, misalnya karbondioksida. Konsentrasi gas oksigen di bumi yang tidak lazim ini
merupakan akibat dari siklus oksigen. Siklus biogeokimia
ini menjelaskan pergerakan oksigen di dalam dan di antara tiga reservoir utama bumi, yaitu atmosfer, biosfer dan litosfer.
![]() |
| Gambar 3. Siklus Oksigen |
Faktor utama yang mendorong siklus oksigen
ini adalah fotosintesis. Fotosintesis melepaskan
oksigen ke atmosfer, manakala respirasi dan proses pembusukan menghilangkannya dari atmosfer. Dalam
keadaan kesetimbangan, laju produksi dan konsumsi
oksigen adalah sekitar 1/2000 keseluruhan oksigen yang ada di atmosfer setiap tahunnya. Oksigen bebas juga terdapat
dalam air sebagai larutan. Peningkatan
kelarutan O2 pada temperatur yang rendah memiliki implikasi
yang besar pada kehidupan laut.
Lautan di sekitar kutub bumi dapat menyokong kehidupan laut
yang lebih banyak oleh karena kandungan oksigen
yang lebih tinggi. Air yang terkena polusi dapat mengurangi jumlah O2 dalam air tersebut.
Para ilmuwan menaksir kualitas air dengan mengukur kebutuhan oksigen biologis atau jumlah O2 yang diperlukan untuk mengembalikan
konsentrasi oksigen dalam air itu seperti
semula. Oksigen secara
cepat bersenyawa, membentuk oksida-oksida, seperti dengan karbon dalam respirasi aerobik atau dengan karbon
dan hidrogen dalam perubahan bahan bakar fosil seperti
dengan metana.
CH4 + 2O2 → CO2 + 2H2
Suatu aspek yang sangat penting dari
siklus di stratosfer yaitu proses pembentukan ozon,
O3. Ozon membentuk lapisan tipis di stratosfer yang berfungsi
sebagai filter dari radiasi ultraviolet,
dengan demikian dapat menjaga kehidupan di bumi dari kerusakan yang disebabkan oleh radiasi tersebut. Siklus Oksigen disempurnakan atau diakhiri
ketika unsur oksigen masuk kembali ke atmosfer
dalam bentuk gas. Hanya ada satu cara yang signifikan dimana hal tersebut
terjadi, yaitu melalui fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan.
4.
Siklus
Nitrogen
Nitrogen
merupakan unsur terbesar yang terdapat di atmosfer, yaitu ± 78 %
dari udara. Nitrogen di alam umumnya berupa gas terutama dalam bentuk sebagai
dinitrogen (N2) dan dalam
jaringan tubuh organisme dalam bentuk asam amino dan asam nukleat. Dalam proses kehidupan, tumbuhan sebagai produsen hanya
mampu menyerap nitrogen dalam bentuk ion nitrit
(NO3-) dan amonium (NH4+) dari tanah.
Nitrogen
bebas dapat ditambat/ difiksasi terutama oleh bakteri (contoh: Marsiella crenatta)
yang terdapat pada akar tumbuhan legum, selain
itu dapat juga dilakukan oleh beberapa jenis bakteri (Azotobacter sp.) yang
bersifat aerob dan (Clostridium
sp.) yang bersifat
anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru)
juga mampu menambat nitrogen). Nitrogen
yang diikat biasanya akan dirubah ke dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan
yang mati oleh bakteri.
Amonia
ini akan dinitrifikasi oleh
bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan.
Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi
nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini
siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem. Nitrogen bebas di udara
dalam bentuk N2 dapat
dioksidasi oleh karena pengaruh suhu saat
terjadinya proses presipitasi menjadi nitrit (NO3-) ataupun amonium
(NH4+) dan kemudian
turun sebagai air hujan.
![]() |
| Gambar 4. Siklus Nitrogen |
5. Siklus Fosfor
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk,
yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan
dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik
dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan
oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik.
Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena
itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan
membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut.
Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap
oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus-menerus.
Siklus fosfor, bersifat kritis karena fosfor secara umum merupakan hara yang
terbatas dalam ekosistem. Tidak ada bentuk gas dari
fosfor yang stabil, oleh karena itu siklus fosfor adalah
“endogenik”. Dalam geosfer, fosfor terdapat dalam jumlah besar dalam
mineral-mineral yang sedikit sekali larut seperti hidroksi apilit, garam kalsium. Adapun gambar dari siklus fosfor adalah sebagai berikut:
![]() |
| Gambar 5. Siklus Fosfor |
Fosfor terlarut dari mineral-mineral
fosfat dan sumber-sumber lainnya, diserap oleh tanaman
dan tergabung dalam asam nukleat yang menyusun material genetik dalam organisme. Mineralisasi dari biomassa
oleh pembusukan/ penguraian
mikroba mengembalikan fosfor
kepada larutan garamnya yang kemudian dapat mengendap sebagai bahan mineral.
Sejumlah besar dari mineral-mineral fosfat digunakan sebagai bahan pupuk,
industri kimia, dan “food additives”. Fosfor merupakan salah satu komponen dari
senyawa-senyawa sangat toksit,
terutama insektisida organofosfat.
6.
Siklus
Belerang
Secara
alami, belerang/ sulfur
terkandung dalam tanah dalam bentuk mineral tanah. Ada juga yang
berasal dari gunung berapi dan sisa pembakaran minyak bumi dan batubara. Sulfur direduksi oleh bakteri menjadi sulfida dan
kadang-kadang terdapat dalam bentuk sulfur dioksida
atau hidrogen sulfida. Melalui proses aerobik tumbuhan mendapat sulfur dari dalam tanah dalam bentuk sulfat (SO4).
Kemudian tumbuhan tersebut dimakan hewan sehingga
sulfur berpindah ke hewan. Lalu hewan dan tumbuhan mati diuraikan menjadi gas H2S atau menjadi sulfat lagi.
![]() |
| Gambar 6. Siklus Belerang |
Setiap daur melibatkan unsur organisme
untuk membantu menguraikan senyawa-senyawa menjadi unsur-unsur. Dalam daur
belerang misalnya, mikroorganisme yang bertanggung
jawab dalam setiap trasformasi adalah sebagai berikut:
a. H2S → S → SO4 Bakteri sulfur tak berwarna,
hijau dan ungu.
b. SO4 → H2S
(Reduksi sulfat anaerobik), bakteri desulfovibrio.
c. H2S → SO4 (Pengokaidasi sulfide aerobik),
bakteri thiobacilli.
d. S organik → SO4 + H2S masing-masing mikroorganisme heterotrofik aerobik dan
anaerobik.
Selain itu, ada beberapa jenis bakteri terlibat dalam daur sulfur, antara lain Desulfomaculum dan Desulfibro yang akan mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S). Kemudian H2S digunakan bakteri fotoautotrof aerob seperti Chromatium dan melepaskan sulfur dan oksigen. Sulfur dioksida menjadi sulfat oleh bakteri kemolitotrof seperti Thiobacillus.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara
komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup dapat juga disebut dengan siklus
materi atau daur biogeokimia. Suatu ekosistem, materi pada setiap
tingkat trofik tidak hilang, namun materi berupa unsur-unsur penyusun bahan
organik tersebut didaur-ulang. Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam komponen
biotik melalui udara, tanah, dan air. Daur ulang materi tersebut melibatkan makhluk hidup dan
batuan sehingga disebut siklus materi.
Adapun fungsi siklus materi, yaitu sebagai
siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai
oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik,
sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga. Terdapat banyak macam materi dalam
ekosistem yang mengalami perputaran siklus, namun ada 6 macam siklus materi
yang umum dikenal, yaitu:
siklus hidrologi, siklus karbon, siklus oksigen, siklus nitrogen, siklus fosfor
dan siklus belerang.
B.
Saran
Mahasiwa
dalam pembuatan sebuah makalah perlu mempunyai banyak referensi atau
rujukan yang dapat menunjang proses pembuatan makalah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta: Penerbit ANDI.
Emanuel, A. P. 1997. Biologi. Jakarta: PT Galaxy Puspa Mega.
Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Bandar Lampung: Bumi
Aksara.
Kimball. 1999. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Kilham, K. 1996. Soil Ecology. United Kingdom: Cambridge University Press.
Odum, Eugene. 1993. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Resosoedarmo, S., K. Kartaminata, dan A. Soegiarto.
1986. Pengantar Ekologi. Bandung:
Remadja Rosda Karya.

.jpg)


.jpg)



EmoticonEmoticon