01 November 2024

Makalah Evolusi-Evolusi Molekuler

Tokoh Evolusi

BAB I
PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Semua bagian organisme berubah selama evolusi. jika sirip ikan berevolusi pada amphibi menjadi anggota badan, dan kemudian anggota badan berevolusi menjadi banyak bentuk dan ukuran, jaringan pembentuknya, sel-selnya, dan molekulnya juga berubah. Evolusi molekuler disinonimkan dengan evousi pada tingkat protein, karena evolusi pada tingkat molekul sebagian besar dipelajari secara menyeluruh pada protein.

Protein merupakan kelas molekul yang paling umum dan paling berdiversifikasi pada organisme. Protein tahan air yang disebut dengan keratin membentuk kulit dan rambut; protein pembeku darah yang disebut hemoglobin berirkulasi dalam darah; banyak macam protein yang disebut enzim, mengkatalisasi metabolisme tubuh. 

Evolusi molekuler meliputi dua area pembahasan, yaitu: (1) evolusi molekuler dan (2) rekontruksi sejarah evolusi gen dan organisme. Area pertama, evolusi makromolekuler menunjukan pembentukan gen dan pola perubahan yang tampak pada materi genetik (misalnya urutan DNA) dan produkinya (missal protein) selama waktu evolusi dan terhadap mekanisme yang bertanggung jawab untuk sejumlah perubahan tersebut. Area kedua dikenal sebagai “molekuler phylogeny” menjelaskan sejarah evolusi organisme dan makromolekul seperti adanya keterlibatan data-data molekuler.

Dua area pembahasan (1) pada objek pertama adalah menjelaskan tentang pembentukan, penyebab dan efek dari perubahan evolusi molekul dan (2) pada objek kedua menggunakan molekul hanya sebagai alat untuk merekontruksi sejarah biologi organisme dan konstituen genetikanya. Walaupun kenyataannya kedua disiplin ilmu di atas saling berkait erat. Kemajuan di satu area akan memfasilitasi perkembangan studi di area lain. Contoh, pengetahuan tentang filogeni adalah sangat esensial untuk determinasi jenis perubahan pada karakter molekuler. Sebaliknya, pengetahuan terhadap pola dan rata-rata perubahan melokul adalah sangat krusial dalam usaha untuk rekontruksi sejarah evolusi kelompok organisme.


B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pembentukan Bumi ?

2.      Bagaimana pembentukan awal dari Atsmofer ?




BAB II
PEMBAHASAN

  
A.    ASAL MULA DARI MAKROMALEKUL INFORMATIONAL
(PEMBAWA INFORMASI)

    Informasi biologis disalurkan melalui polimerisasi template specific (cetakan spesifik) dari nukleotida. Gabungan dari polifosfat, purin, dan pirimidin akan menghasilkan rantai asam nukleat acak jika ribose dan deoksiribosa diikutkan dalam reaksi. Satu permasalahan yang belum dapat dipecahkan adalah bahwa kehidupan menggunakan asam nukleat ikatan 3‟,5‟ sedangkan sintesis purba menghasilkan molekul RNA dengan ikatan yang bervariasi, yang kebanyakan adalah 2‟,5‟. Sebaliknya deoksiribosa tidak memiliki 2‟-OH sehingga tidak dapat meberi ikatan 2‟,5‟. Walaupun begitu, RNA dianggap menyediakan molekul informational pertama, sedangkan DNA akan terbentuk setelahnya, yang dirancang untuk menyimpan informasi dalam bentuk yang lebih akurat dan stabil.   

    Ketika template RNA di-inkubasikan dengan campuran nukleotida yang ditambahkan pengkondensasi purba, maka potongan RNA complementer akan tersintesis. Reaksi non-enzimatis ini dikatalis oleh ion timah, dengan tarif kesalahan sekitar 1 basa yang salah dalam setiap 10 basa yang terbentuk. Dengan menggunakan ion seng (Zn), terjadi kemajuan dalam reaksi, dimana panjang molekulnya dapat mencapai 40 basa, dengan taraf kesalahan sekitar satu dalam 200. Semua RNA dan DNA polymerase modern mengandung Zn. Jika ikatan template RNA 3‟,5‟ digunakan , sekitar 75% RNA yang terbentuk mempunyai ikatan 3‟,5‟. Akan tetapi hal ini tidak mengatasi problema bahwa pembentukan orisinil dari tipe polimer RNA acak sangat cenderung menggunakan ikatan non biologis 2‟,5‟. 

    Jika campuran nukleosida trifosfat (atau nukleotida plus polifosfat) di inkubasikan dalam kondisi purba, dengan menggunakan Zn sebagai katalis, sebuah molekul unting tunggal RNA dengan sekuen acak akan terbentuk. Langkah polimerisasi awal ini sangatlah lamban. Akan tetapi, ketika polimer RNA terbentuk, ia akan bertindak sebagai template untuk penyusunan untingunting komplementer. Sintesis berdasarkan template jauh lebih cepat, bahkan ketika tidak ada enzim sekalipun. Unting komplementer akan berperan sebagai template untuk menghasilkan lebih banyak molekul RNA. Hasil akhirnya adalah, ketika sekuen acak pertama muncul, ia akan melipat ganda dengan cepat dan akan mengambil alih campuran inkubasi. Dengan begini akan terbentuk kumpulan sekuen dengan banyak kesalahan, namun saling berkaitan (suatu „quasi-species‟ molecular). Jika serentetan inkubasi yang mirip dilakukan, masing masing sampel akan menghasilkan quasi-species yang berkaitan. Akan tetapi, sekuen yang mengambil alih pada setiap inkubasi akan berbeda satu sama lain.

 

B.     RIBOSOM DAN ‘DUNIA RNA’

    Melihat kasus ayam, telur lebih dulu protein atau asam nukleat, Karena molekul RNA acak dapat menyusun dan berduplikasi sendiri dibawah kondisi purba, maka diduga bahwa asam amino terbentuk terlebih dahulu. Walaupun kebanyakan enzim modern adalah protein, contoh-contoh RNA yang bertindak sebagai enzim dan mengkatalis rekasi tanpa protein telah ditemukan. Kondisi ini menunjukan bahwa asam nukleat primitif bereplikasi sendiri, baru nantinya ditambahkan protein.  

Pandangan yang agak ekstrim adalah bahwa organisme primitif memiliki gen dan enzim yang terbuat dari RNA yang membentuk sesuatu yang dikenal sebagai “dunia RNA.” Ide ini diusulkan oleh Walter Gilbert tahun1986 dan dimaksudkan untuk menghindari  paradoks bahwa asam nukleat dibutuhkan untuk mengkode protein, sedangkan enzim yang terbuat dari protein dibutuhkan dalam replikasi asam amino. Dalam tahapan evolusi, RNA diduga menjalankan kedua fungsi diatas. Nantinya protein akan mengambil alih fungsi enzimatik, dan DNA muncul dan berfungsi menyimpan materi genetik, sehingga RNA hanya akan berfungsi sebagai pertengahan antara enzim dan gen. 

Beberapa contoh telah menggambarkan kemampuan RNA dalam melakukan reaksi enzimatik serta mengkode informasi genetik. Beberapa contoh kasus yang mendukung RNA adalah: 

1.      Ribosom adalah molekul RNA sekali pakai yang aktif secara enzimatis. Enzim asli memproses banyak sekali molekul, dan tidak berubah susunannya selama reaksi. Maka dari itu RNA yang bersifat “self splicing (membelah dengan sendirinya)‟  bukanlah enzim sejati karena hanya bekerja sekali. Protein didalamnya hanya berfungsi untuk menahan ribosom dan RNA transfer yang direaksikan. Dalam larutan pekat, protein bahkan tidak diperlukan, karena komponen RNA dapat bekerja sendiri.  

2.      Intron yang bersifat self splicing (dapat membelah sendiri, yaitu intron group I) adalah contoh dari RNA katalis. Gen dari sel eukariotik biasanya diselingi oleh daerah non-koding (intron), yang harus dihapus dari RNA

3.      Viroid adalah molekul RNA penginfeksi sel tanaman. RNA viroid mengandung rekasi pembelahan diri selama replikasinya. Jadi disini viroid berfungsi sebagai ribosom.  

4.      Polimerase DNA tidak dapat memulai unting baru, namun hanya memanjangkan unting yang sudah ada. Primer yang terbuat dari RNA harus digunakan ketika unting DNA mulai elongasi. Polimerase RNA mampu melakukan inisiasi dan elongasi. Hal ini menunjukan bahwa polymerase RNA telah berevolusi sebelum polymerase DNA.

5.      Molekul RNA kecil yang digunakan sebagai penunjuk ditemukan dalam berbagai proses. Contohnya adalah dalam penghilangan intron, modifikasi dan editing RNA duta, dan pemanjangan ujung dari kromosom eukariot oleh telomerase.  

6.      „Riboswitches‟ adalah motif pengikat pada RNA yang mengikat molekul kecil sehingga mengontrol ekspresi gen ketika tidak adanya protein regulator.  

 

Didalam konsep dunia RNA adalah bahwa RNA lebih reaktif dibandingkan DNA. Walaupun RNA lebih mudah terbentuk pada kondisi purba, ia lebih tidak stabil dibanding DNA. Maka dari itu, walaupun DNA lebih lama terbentuk pada awalnya, ia akan cenderung mengalami penumpukan dalam kondisi seperti diatas. Terlebih lagi, sup purba mengandung campuran dari sub komponen kedua tipe asam nukleat, beserta protein, lipida dan karbohidrat. Maka dari itu lebih mungkin bahwa suatu molekul asam nukleat hibrida yang mengandung komponen RNA dan DNA lah yang pertama kali muncul.

 

C.    SEL PERTAMA

    Membentuk molekul biologis primitif merupakan langkah pertama. Kemungkinan, protein dan molekul lipid terkumpul disekitar RNA (atau DNA) primitif, sehingga membentuk gumpalan mikroskopik ber-membran. Pada akhirnya proto-sel diatas akan belajar menggunakan RNA untuk mengkode sekuen protein. Lipid akan membentuk membran dibagian luar untuk menjaga agar komponen lainya tetap ditempat. Awalnya protein dan RNA saling berbagi fungsi enzimatis. Namun kemudian RNA akan kehilangan sebagian besar fungsi enzimatisnya ketika digantikan protein yang lebih cocok. Diduga bahwa RNA merupakan molekul pertama yang digunakan untuk menyimpan informasi, dan akan digantikan oleh DNA dikemudian hari. Karena DNA lebih stabil dibandingkan RNA, maka ia dapat menyampaikan informasi dengan lebih akurat. 

    Sel primitif agak menyerupai bakteri primitif, dan mereka hidup memakan senyawa organik dalam sup purba. Pada akhirnya, persediaan molekul organik yang sudah jadi akan habis. Proto sel terpaksa mencari sumber energi baru, dengan menggunakan matahari. fotosintesis pertama diduga menggunakan energi matahari digabungkan dengan pengunaan senyawa sulfur sebagai pereduksi. Fotosintesis yang lebih maju menggunakan air, bukan senyawa sulfur. Air akan dipisah, melepaskan oksigen ke atmosfer. 

    Sebelum ini, atmosfer tidak memiliki oksigen. Penambahan oksigen ini benar-benar mengubah keadaan bumi purba. Ketika oksigen telah tersedia, kemampuan respirasi mulai berkembang. Sel mengatur ulang komponennya, dari yang semula digunakan untuk fotosintesis, menjadi yang dapat melepaskan energi dengan cara oksidasi molekul makanan menggunakan oksigen. Fotosintesis menghasilkan oksigen dan memnggunakan CO2, sedangkan respirasi melakukan sebaliknya. Hasil keseluruhan adalah ekosistem dimana tumbuhan dan hewan saling melengkapi secara biokimia.


D.    TEORI AUTOTROFIK DAN ASAL MULA METABOLISME

Teori asal kehidupan autorofik menyatakan bahwa oksidasi kimia dari senyawa besi yang sudah ada di alam sebagai sumber energi purba. Terutama pada konversinya dari FeS menjadi pyrite (FeS2) menggunakan H2S yang menghasilkan energi dan menyediakan atom H untuk mereduksi CO2 menjadi materi organik (Bakteri anaerob modern menghasilkan energi melalui oksidasi senyawa Fe2+ menjadi Fe3+, dan ada juga yang mmengoksidasi senyawa sulfur. Maka dari itu metabolism pada masa purba yang menggunakan Fe dan sulfur terdengar masuk akal).

Beberapa teori telah dikemukan mengenai rekasi fiksasi CO2 yang pertama. Salah satu teori melibatkan insersi CO2, yang dikatalis oleh Fe, kedalam derifat sulfur dari asam karboksilat yang masih dapat ditemukan sekarang sebagai penengah metabolit (metabolik intermediate), seperti asam asetat, asam piruvat, dll. Reaksi awal seperti diatas terjadi dipermukaan mineral besi dan sulfide yang terpendam dalam tanah, tidak pada sup purba. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari mana asam organik seperti itu awalnya berasal. Salah satu kemungkinan adalah bahwa mereka terbentuk dari sintesis tipe Miller seperti yang telah dijelaskan. Teori lain menjelaskan bahwa molekul organik pertama dibentuk langsung dari CO yang ditambah H2S. Telah dibuktikan bahwa campuran katalis FeS/NiS dapat merubah CO ditmabah thiol metan (CH3SH) menjadi thioester (CH3 CO SCH3), yang selanjutnya terhidrolisis menjadi asam asetat. Keikutsertaan selenium sebagai katalis memungkinkan konversi CO ditambah H2S menjadi CH3SH (yang nantinya akan menjadi thioester, lalu asam asetat). 

Telah dibuktikan bahwa aktivasi CO oleh katalis campuran FeS/NiS dapat membentuk ikatan peptide antara asam amino alpha (alpha amino acids) dalam larutan aqueous. Sistem diatas juga mampu menghidrolisis polipeptida. 

 

1.   EVOLUSI DNA, RNA DAN SEKUEN PROTEIN

Suatu silsilah evolusi mungkin dapat disusun menggunakan satu set sekuen suatu protein, selama protein tersebut dapat ditemukan pada setiap mahluk yang dibandingkan. Rantai alpha hemoglobin hanya ditemukan pada mahluk yang berkerabat darah dengan manusia. Sebaliknya, cytochrome e adalah suatu protein yang terlibat dalam penghasilan energi pada semua organisme tingkat atas, termasuk fungi dan tumbuhan. Bahkan terdapat beberapa kerabat dari protein tersebut yang ditemukan pada banyak bakteria. Manusia dengan ikan berbeda dalam sekuen asam amino untuk cytochrome e sebesar 18%, dan berbeda dengan fungi atau tanaman sebesar 45%. Akan tetapi antara fungi dan tanaman sendiri, terdapat perbedaan 45%, yang menandakan bahwa perbedaan antara hewan dan tanaman adlah sebesar perbedaan antara tanaman dan fungi. 

            Mutasi tunggal mungkin mengembalikan suatu sekuen gen atau protein pada lokasi tertentu, kembali menjadi sekuen moyangnya. Akan tetapi gen hampir tidak pernah bermutasi kebelakang untuk kembali menjadi seperti moyangnya, yaitu sebelum sekuen tersebut mengalami berbagai evolusi. Hal ini hanyalah masalah probabilitas. Tidak ada yang mencegah suatu sekuen untuk kembali menjadi sekuen awal, namun kemungkinan membalikan setiap mutasi yang telah terjadi adalah sangat-sangat kecil. 

2.   MENGHASILKAN GEN BARU MELALUI DUPLIKASI

Cara standar mengetahui terbentuknya gen baru adalah melalui duplikasi gen. Mutasi mungkin menyebabkan duplikasi dari segmen DNA yang membawa satu sampai beberapa gen. Segmen awal akan tetap sama karena fungsinya dibutuhkan, namun duplikatnya dapat bermutasi dan mungkin tersusun ulang secara drastis. Kemungkinan besar mutasi yang menumpuk akan menonaktifkan gen duplikat. Namun kadang juga duplikat akan tetap aktif dan terubah susunanya sehingga mempunyai fungsi yang berkaitan namun berbeda dengan gen aslinya. 

 Duplikasi berulang yang diikuti perbedaan sekuen mungkin menghasilkkan keluarga gen berkerabat yang mempunyai fungsi yang berkaitan namun berbeda. Salah satu contoh yang paling baik adalah keluarga gen globin. Hemoglobin membawa oksigen dalam darah, sedangkan mioglobin membawa oksigen dalam otot. Kedua protein ini memiliki fungsi yang kurang lebih sama, bentuk 3D yang mirip, dan sekuen yang berkerabat. Setelah gen globin awal berduplikasi, 2 gen untuk mioglobin dan hemoglobin perlahan mengalami percabangan, karena mereka mengalami spesialisasi untuk bekerja dalam jaringan yang berbeda. 

Gen globin adalah contoh dari keluarga gen (gene family), yaitu sekelompok gen yang saling berkerabat yang terbentuk melalui duplikasi terus menerus. Setiap anggota keluarga ini mempunyai sekuen yang berkerabat dengan fungsi yang mirip. Selama evolusi, duplikasi gen yang terus menerus mungkin menghasilkan beberapa gen baru yang fungsinya mengalami secara perlahan, sampai pada akhirnya kekerabatan antar keduanya sulit untuk dikenali. Hal ini memberikan gen suatu penggolongan lain, dibawah tingkat keluarga, yang dikenal sebagai “superfamily”. Gen-gen pada system imun merupakan contoh yang baik dari keluarga gen dan superfamily gen. 

 

3.   MEMBUAT GEN BARU MELALUI SHUFFLING

Cara lain dalam menghasilkan gen baru adalah dengan menggunakan molekul yang sudah jadi. Segmen dari dua gen atau lebih dapat digabungkan (fusi) melalui penyusunan ulang DNA, sehingga menghasilkan gen baru yang tersusun atas daerah2 (region) yang berasal dari beberapa sumber. Contoh pembentukan gen dari beberapa komponen yang berbeda adalah pada reseptor LDL. LDL atau low density lipoprotein, berfungsi membawa kolesterol dalam darah. Reseptor LDL ditemukan pada permukaan sel yang menggunakan LDL. Gen untuk reseptor ini terdiri atas beberapa daerah, dimana dua diantaranya berasal dari gen lain. Mendekati bagian depan terdapat 7 ulangan dari suatu sekuen yang juga ditemukan dalam „factor C9 komplementer‟, yaitu suatu protein dalam sistem imun tubuh. Lebih kedepan lagi adalah segmen yang berkerabat dengan suatu hormon, yaitu epidermal growth factor. Ketika suatuen „mosaik‟ seperti itu ditranskripsikan lalu ditranslasi, maka akan terbertuk suatu protein „tembelan‟ yang tersusun atas beberapa domain yang berbeda.  

4.   PROTEIN YANG BERBEDA BEREVOLUSI PADA TARAF YANG BERBEDA

Fibrinopeptida terlibat dalam proses pembekuan darah. Protein ini membutuhkan arginin di bagian ujung, dan harus bersifat keasaman sedang. Terlepas dari itu, protein ini dapat bervariasi secara luas karena sedikit sekali syarat2 (agar bisa berfungsi) lainya. Sebaliknya, histon mengikat DNA dan bertanggung jawab atas benarnya pelipatan DNA. Hampir setiap perubahan pada histon dapat bersifat letal pada sel, maka dari itu evolusi histon sangatlah lamban. 

Sitokrom c adalah suatu enzim yang fungsinya bergantung amat sangat pada residu asam amino pada situs aktif, yang mengikatkanya pada kofaktor hemo. Karena itu residu pada situs aktif jarang bervariasi, walaupun asam amino disekitarnya berubah-rubah. Dari 104 residu, hanya 3, yaitu Cys-17, His-18, dan Met-80 yang tidak bervariasi sama sekali. Pada tempat lain, variasi sangatlah rendah residu asam amino yang besar dan nonpolar selalu mengisi posisi 35 dan 36. Beberapa molekul sitokrom c telah diamati menggunakan kristalografi sinar, dan telihat bahwa semua molekul memiliki struktur 3D yang sama. Walaupun pada molekul sitokrom c dapat terjadi variasi sampai 88% pada residu, bentuk 3D nya tidak berubah. Sedikit variasi ini terlihat pada asam amino yang penting bagi fungsi dan struktur sitokrom c. 

Insulin adalah suatu hormon yang berevolusi dengan kecepatan yang kurang lebih sama dengan sitokrom c. Inslin terdiri atas 2 rantai protein (A dan B)yang dikode oleh satu gen insulin. Selama sintesis protein, molekul pre-insulin panjang akan dihasilkan. Bagian tengah molekul ini, yaitu peptide C, akan dipotong dan dibuang. Ikatan disulfida akan menahan rantai A dan B bersamasama. Karena rantai C bukanlah bagian dari hasil akhir (hormone), maka ia dapat be revolusi dengan lebih cepat, kira-kira 10 kali kecepatan evolusi rantai B dan A. Seluruh protein ini menjaga residu penting mereka selama evolusi. Perlu dicatat bahwa mutasi bersifat acak. Mutasi bias saja terjadi pada bagian A, B, maupun C. Mutasi yang terjadi pada A dan B kemungkinan bersifat merugikan bagi organisme, maka dari itu tidak akan diturunkan ke generasi selanjutnya. Sebaliknya mutasi pada C tidak merugikan organisme, maka dari itu akan disalurkan kepada progeny.

5.   KEBIASAAN MOLEKULAR (MOLECULAR CLOCKS) UNTUK
      MELACAK EVOLUSI

Protein yang berevolusi secara cepat, lambat laun akan memiliki sekuen yang sangat berbeda antar organisme dari asal yang sama, sehingga tidak dapat dikenali lagi. Sebaliknya, protein yang berevolusi sangat lamban akan menunjukan perbedaan yang kecil diantara dua orgnasime. Maka dari itu, kita perlu menggunakan sekuen yang lambat berubahnya, untuk menunjukan hubungan evolutioner yang jauh serta sekuen yang berevolusi secara cepat pada organisme yang berkerabat dekat. 

 Kebanyakan protein manusia memiliki sekuen yang identik dengan simpanse, yang berkerabat dekat dengan manusia. Walaupun kita menelusuri evolusi cepat pada ebrinopeptida, manusa dan simpanse akan berada pada cabang yang sama dalam silisilah evolusi. Jadi bagaimana membedakan manusia dengan simpanse. Mutasi yang tidak mepengaruhi sekeuen protein lebih cepat menuumpuk selama evolusi, karena mereka tidak memiliki efek merugikan. Jadi jika kita melihat sekuen DNA (bukan sekuen protein) dari beberapa organisme, akan terlihat banyak perbedaan lain. Perbedaan ini cenderung ditemukan pada sekuen non koding dan pada posisi kodon ketiga. Dengan mengubah basa ketiga pada sebagian besar kodon tidak akan mengubah asam amino yang dikodenya.  Intron adalah sekuen non koding yang akan dikeluarkan dari transkrip primer sehingga tidak akan muncul pada mRNA. Sekuen introm tidak merepresentasikan protein akhir yang akan dibentuk. Disamping batas intron dan situs pengenal daerah splicing, sekuen intron pada suatu DNA bebas bermutasi. Sekuen non koding lain terdapata diantara gen, dan jika tidak terlibat dalam proses regulasi, maka mereka bebas untuk bermutasi.     

6.   EVOLUSI  INSTAN RNA RIBOSOM

Bayangkan sebuah molekul esensial yang berkembang secara perlahan, seperti histon atau RNA ribosom. Ada kemungkinan kombinasi tertentu dari dua mutasi terjadi pada molekul fungsional, namun hal itu sendiri akan menjadi tidak berpengaruh. Sebagai contoh, sebuah mutasi dari G ke C dapat berakibat fatal pada rRNA 16S. Namun, dengan mengganti GC menjadi pasangan basa CG hal tersebut dapat diatasi. Selama evolusi normal, pergantian ini hampir tidak mungkin terjadi karena mutasi tunggal sekalipun merupakan mutasi yang letal dan kemungkinan terjadinya mutasi beruntun hanya pada dua jenis basa sangat kecil.

Akibatnya, pasangan CG pada mutasi ini akan menjadi sangat langka di dalam rRNA 16S pada makhluk hidup yang masih ada. Untuk menganalisis seluruh hubungan struktur dan fungsi molekul seperti rRNA, beberapa mutasi buatan harus dipaparkan secara berturut-turut. Hal ini dapat dilakukan dengan prosedur yang dikenal dengan nama “evolusi instan” yang dikembangkan di dalam laboratorium Dr. Philip R. Cunningham di Wayne State University. Pada pendekatan ini, rRNA 16S dimutasikan dan mutasi yang mencegah sintesis protein diisolasi. Kemudian, mutasi supresor yang mengembalikan sintesis protein diseleksi. Pilihan lain, beberapa mutasi acak dapat dipaparkan secara beruntun pada suatu daerah kecil rRNA yang diduga memiliki peran penting dalam sintesis protein. Pada kedua cara tersebut, kebanyakan mutasi yang terjadi bersifat letal pada keadaan normal untuk menghindari matinya bakteri maka dilakukan manipulasi agar mutan dari rRNA 16S tidak mempengaruhi sintesis protein sel normal.

Teknologi berikut dikembangakan untuk mencegah bentukan rRNA yang termutasi mempengaruhi fungsi normal dari bakteri.

a.       Salinan gen rRNA 16S dimasukkan ke dalam plasmid dan dimutasikan. Karena salinan genom rRNA 16S masih berfungsi, sebagian besar ribosom sel akan masih tetap normal. Hanya sebagian kecil ribosom yang akan memiliki  mutan rRNA 16S.

b.      Sekuen anti-Shine-Dalgarno pada plasmid rRNA 16S diubah sehingga tidak dapat mengenali mRNA sel normal, sehingga mutasi letal pada salinan rRNA 16S tidak akan mempengaruhi sintesis protein normal.

c.       Gen reporter didesain dengan sekuen Shine-Dalgarno yang telah diubah menjadi cocok dengan plasmid atau mutan rRNA 16S. Sehingga hanya translasi mRNA dari gen reporter yang merespon mutasi dalam salinan rRNA 16S yang berasal dari plasmid. Gen reporter yang digunakan ada dua, chlorampenicol acetyl transferase (CAT), yang membuat bakteri menjadi kebal terhadap chlorampenicol, dan green fluorescent protein (GFP), yang menyebabkan bakteria menjadi berwarna hijau saat menampakkan fluorescent. Mutan rRNA 16S secara fungsional terisolasi dari bagian sel yang lain dan dapat dianalisis dengan memonitor ekspresi

dua protein CAT dan GFP. Mutasi letal pada rRNA 16S hanya mencegah CAT dan GFP tanpa mempengaruhi sintesis protein normal dari bakteri.

Sebenarnya sekuen RNA ribosom digunakan untuk klasifikasi. Namun setelah didapatkan data sekuen yang lebih banyak, termasuk data seluruh genom, menambah sejumlah gen lain untuk masuk ke dalam pertimbangan klasifikasi menjadi mungkin dilakukan. Untuk mendapatkan pohon kekerabatan yang benar kita juga membutuhkan informasi sekuen dari organisme lain yang berada di luar kelompok tersebut, dalam kasus ini digunakan bakteri pseudomonas, yang berkerabat jauh dengan enterobakteri. Titik pada gambar menunjukkan dugaan leluhur yang sama.

                       

Panjang cabang juga seringkali di beri skala untuk menunjukkan jumlah mutasi yang dibutuhkan berapa banyak basa yang harus berubah untuk mengganti sekuen tiap poin cabang satu ke yang lain.

Satu masalah besar dari perbandingan sekuen adalah perubahan basa dapat berbalik kembali. Walaupun perbandingan statistik dari beberapa sekuen dengan banyak bagian yand diubah seringkali sudah mencukupi untuk pembuatan silsilah, terkadang muncul ambiguitas. Metode yang berguna untuk membantu menyelesaikan ambiguitas ini adalah dengan menggunakan insersi atau delesi yang tertata – dikenal dengan nama sekuen penanda atau indels. Walaupun insersi atau delesi satu basa dapat berbalik, kemungkinan insersi atau delesi pada beberapa basa untuk kembali seperti bentuk aslinya sangat kecil. Akibatnya, bila satu subgrup famili yang berhubungan sekuennya memiliki indels dengan panjang yang sama dan sekuen di tempat yang sama, sekuen itu berarti berasal dari satu leluhur yang sama.

 

7.   DNA MITOKONDRIA 

 Walaupun mitokondria mengandung molekul DNA sirkuler yang berbeda dengan kromosom bakteri, genom mitokondria berjumlah sangat sedikit. DNA mitokondria mengkode beberapa protein dan RNA ribosom dari mitokondria. Namun sebagian besar komponennya dikode oleh nukleus eukariot. Yang menjadi pertimbangan kali ini adalah mitokondria, DNA hewan mengakumulasi mutasi lebih cepat daripada gen inti sel. Dalam hal ini, mutasi seringkali terjadi pada posisi kodon ketiga dari gen struktural dan bahkan lebih cepat di bagian pengaturan antar gen. Hal ini berarti bahwa DNA mitokondria dapat digunakan untuk mempelajari hubungan kekeluargaan dari spesies yang dekat atau ras berbeda dalam satu spesies. Kebanyakan variabilitas dalam DNA mitokondria manusia muncul di dalam segmen D-loop dari daerah regulator. Pembacaan segmen ini akan membuat kita dapat membedakan orang berdasarkan kelompok rasnya.

Satu kekurangan bila kita memakai DNA mitokondria adalah bahwa semua mitokondria merupakan hasil turunan dari ibu. Walaupun sperma juga mengandung mitokondria, itu tidak dilepaskan saat fertilisasi sel telur dan tidak diwariskan ke keturunannya. Di sisi lain, analisis mitokondria memberikan hasil yang jelas mengenai silsilah dari wanita tersebut, sebagaimana komplikasi akibat rekombinasi dapat diabaikan. Lebih jauh lagi, sel eukaryotik mengandug hanya satu nukleus tapi memiliki banyak mitokondria sehingga bisa didapatkan ribuan DNA mitokondria. Hal ini membuat ekstraksi dan sekuensing DNA mitokondria menjadi lebih mudah dari segi teknikal.

 

8.   DNA KUNO DARI HEWAN PUNAH

            Terpisah dari mumi dan mamoth yang didiskusikan tadi, sekuen DNA dari hewan yang masih hidup biasanya digunakan untuk merancang skema evolusi. Namun, DNA lama yang diekstrak dari sisa fosil hewan yang sudah punah dapat memberikan data evaluasi bagi ras yang sudah berevolusi. DNA tertua yang diketahui didapat dari damar. Damar adalah bentukan resin dari pohon yang sudah punah yang akan berubah menjadi keras dan bening setelah jutaan tahun. Terkadang ada hewan kecil yang terperangkap di dalam damar dan ikut terawetkan. Sebagian besar hewan yang terperangkap adalah serangga, namun terkadang juga ditemukan cacing, siput dan bahkan kadal kecil. Damar berperan sebagai pengawet dan sel hewan di dalamnya masih bisa dilihat dengan mikroskop elektron. Sudah dibuktikan bahwa DNA di dalam hewan yang terperangkap damar bisa dipulihkan dan DNA tersebut telah diperbanyak dengan PCR dan disekuensikan.

Potongan terbesar damar yang ditemukan hanya berukuran 6 inchi, sehingga hewan besar seperti dinosaurus tidak dapat diawetkan. Namun, sel darah yang terawetkan di dalam perut serangga penghisap darah secara teori dapat memberikan sumber DNA lengkap dari hewan besar. Hal ini menjadi dasar pembuatan film Jurassic Park oleh Michael Crichton, saat DNA dinosaurus dimasukkan ke dalam telur amphibi. Di kehidupan nyata, DNA dinosaurus yang ditemukan sudah rusak berat dan hanya bagian pendek saja yang dapat dibaca. Namun, kemungkinan untuk mendapatkan sekuen DNA dari T-Rex suatu saat bukan lagi menjadi impian saja.

Walaupun DNA memang telah diisolasi dari sampel yang berusia ratusan juta tahun sehingga identifikasi menjadi tidak mungkin. Sekarang, DNA hewan tertua yang telah diidentifikasi berasal dari 50.000 tahun yang lalu berasal dari mammoth Siberia. Sampel jenis beku ini juga menyediakan DNA tumbuhan rumput dan semak yang berasal 300.000 sampai 400.000 tahun yang lalu.

 Mikroorganisme juga dapat terperangkap di dalam damar dan beberapa kasus dapat dihidupkan kembali, bukan hanya mendapat sampel DNAnya saja. Dalam hal ini, spora, dilindungi mantel pelindung yang dibentuk bakteri agar dapat bertahan dalam kondisi buruk sehingga dapat tetap hidup untuk waktu yang sangat lama. Beberapa spora bakteri berusia 30 juta tahun telah ditemukan di dalam lebah yang terperangkap damar. Ketika diberi nutrisi spora tersebut berkembang menjadi koloni bakteri. Bakteri ini diidentifikasi sebagai Bacillus sphaericus, yang sekarang ditemukan berasosiasi dengan lebah. DNA dari bakteri ini sangat mirip dengan relatifnya di masa kini, hanya saja tidak identik, dan tampak seperti bakteri kuno ini hanya sebagai kontaminan saja. Sekarang, spora dari bakteri bacilus lain diisolasi dan dihidupkan kembali dari kristal garam berusia 250 juta tahun. 



DAFTAR PUSTAKA

 

Ansosry. (2016). Geologi Pertambangan. Kemendikbud, Medan

           Cambridge, Univ. Press.

Chaloner. (1994). Evolution and Extinction. 1 st ed. Cambridge University Press 

Dr. Djoko T. Iskandar. Modul 1 ( Teori Evolusi)

Futuyma, D.J. (1979). Evolutionary Biology. Sinauer Associates Inc.  

Greenwood, P.J. P.H. Harvey & M. Slaktin, (eds.). (1985). Evolution

Neal A Campbell. 2009. Biologi Jilib II Edisi 5. Jakarta : Erlangga

Ridley, Mark. 1991. Masalah-masalah evolusi. junior research in new college. Oxford. UI Press. Salemba. jakarta

Widodo, et. al. 2003. Bahan Ajar Evolusi. Program Semi-que IV. Jurusan Biologi FMIPA. Universitas Negeri Malang. Malang. 


EmoticonEmoticon