05 November 2024

Produksi dan Produktivitas dalam Ekosistem-Makalah Ekologi

 

Ilustrasi Ekosistem

Produksi dan Produktivitas dalam Ekosistem

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Suatu ekosistem dapat terbentuk oleh adanya interaksi antara makhluk dan lingkungannya, baik antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan antara makhluk hidup dengan lingkungan abiotiok (habitat). Interaksi dalam ekosistem didasari adanya hubungan saling membutuhkan antara sesama makhluk hidup dan adanya eksploitasi lingkungan abiotik untuk kebutuhan dasar hidup bagi makhluk hidup.

Dalam mempelajari suatu ekosistem, pertama-tama perlu diketahui sumber energi ekosistem tersebut. Dengan adanya energi dan arus energi dapat menjamin kelangsungan hidup organisme yang berada dalam suatu ekosistem tersebut. Karena semua organisme memerlukan energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan, reproduksi, dan pada beberapa spesies, untuk pergerakan. Pengaturan energi dalam suatu ekosistem bergantung pada produktivita sprimer. Sehingga sangat penting untuk mempelajari produktivitas suatu ekosistem dalam kaitannya mempelajari kelangsungan hidup suatu organisme.

Jumlah total emnerghi yang terbentuk melalui proses fotosintesis perunit area perunit waktu disebut produktivitas primer kotor, namun demikian tidak semua energi yang dihasilkan melalui fotosintesis ini diubah menjadi biomassa, tetapi sebagian dibebaskan lagi melalui proses respirasi. Produktivitas primer bersih dengan demikian adalah hasil fotosintesis dikurangi dengan respirasi.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan produktivitas?

2.      Bagaimana proses-proses dasar produktivitas?

3.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas?

4.      Bagaimana metode pengukuran produktivitas?

 

C.    Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian produktivitas

2.      Untuk mengetahui bagaimana proses-proses dasar produktivitas

3.      Untuk mengetahui apa-apa saja faktor yang mempengaruhi produktivitas

4.      Untuk mengetahui metode yang digunakan untuk pengukuran produktivitas


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Produktivitas

Dalam lingkunganalami energi matahri yang sampai ke permukaan bumi akan diterima oleh organisme autotrof untuk merubah bahan anorganik menjadi bahan organik. Perubahan tersebut dalam ekologi dinyatakan degan pertambahan biomassa yang dikenal dengan produktivitas.

Karena produktivitas mengandung pengrtian tempat maka sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan setempat. Keadaan lingkungan yang mendukung untuk terjadinya proses-proses fisiologi secara optimal akan meningkatkan produktivitas. Sebaliknya lingkungan yang tidak mendukung untuk pertumbuhan organisme akan menghambat laju pertumbuhan bahan organik (biomassa).

1.  Produktivitas primer, meliputi produksi materi organik baru pada tumbuhan atau autotrof.

2.  Produktivitas sekunder, meliputi produksi materi organik pada hewan atau heterotrof.

 

B.     Produktivitas ekosistem

Sistem produksi dalam ekosistem erat hubungannya dengan daur materi dan aliran energi. Produksi merupakan istilah umum bagi para ahli eklogi yang digunakan untuk proses pemasukan dan penyimpanan energi didalam ekosistem. Produktivitas ekosistem merupakan parameter pengukuran yang penting dalam penentuan aliran energi total melalui semua tingkat trofi dari suaru ekosistem.

Setiap ekosistem atau komunitas, atau bagian-bagian lain memiliki produktivitas dasar atau disebut produktivitas primer. Produktivitas primer adalah kecepatan penyimpanan energi potensial oleh organisme produsen melalui proses fotosintesis dan kemosintesis (pemanfaatan hasil sintesis) dalam bentuk bahan-bahan organik dapat digunakan sebagai bahan pangan.

1.      Produksi primer kotor ( gross primary productivity) merupakan seluruh hasil fotosintesa (termasuk yang dipakai respirasi).

2.   Produksi primer bersih (net primary productivity) merupakan hasil bersih fotosintesa yang dapat digambarkan dengan kecepatan penimbunan senyawa organik pada tanaman.

 

C.    Proses-Proses Dasar Produktivitas

Produktivitas primer bersih ditentukan oleh perbedaan relatif dari hasil fotosintesis dengan materi yang dimanfaatkan dalam proses respirasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi prodksi primer adalah sebagai berikut :

a.       Proses fotosintesis

Proses ini hanya memanfaatkan sebagian kecil energi cahya yaitu sekitar 1-5% yang diubah menjadi energi kimia dan sebagian besar dipantulkan kembali atau berubah menjadi panas. Gula yang dihasilkan dalam fotosintesis dapat dimanfaatkan dalam proses respirasi untuk menghasilkan ATP dan dapat dikonpersi menjadi senyawa organik lain seperti lignin, selulosa, lemak, dan protein.

Estimasi potensi produktivitas primer maksimum dapat diperoleh dari efisiensi potensial fotosintesis. Energi cahaya yang dipancarkan matahari ke bumi ± 7.000 kkal/m2/hari pada musim panas atau daerah tropis dalam keadaan tidak mendung. Dari jumlah tersebut, sebanyak ± 2.735 kkal dapat dimanfaatkan secara potensial untuk fotosintesis bagi tumbuhan. Sekitar 70% energi yang tersedia berperan dalam perantara pembentukan pemindahan energi secara fotokhemis ke fotosintesis. Dari total energi tersebut, hanya sekitar 28% diabsorbsi kedalam bentuk yang menjadi bagian dari pemasukan energi ke dalam ekosistem. Prinsipnya dibutuhkan minimum 8 einstein (mol quanta) cahaya untuk  menggerakkan 1 mol karbohidrat.

Secara teoritis produktivitas primer bruto ekosistem dapat dihasilkan  635 kkal/m2/hari dan sebanyak 165 g/m2/hari berubah ke massa bahan organik. Untuk keperluan respirasi harian, tumbuhan menggunakan ± 25 % dari produk organik. Dengan demikian produksi netto yang diperoleh ekosistem ± 124 g/m2/hari. Estimasi hasil itu dapat diperoleh jika cahaya maksimal, efisiensi maksimal dalm perubahan cahay amenjadi karbohidrat dan respirasi minimum. Salah satu bukti catatan produktivitas bersih harian adalah sebesar 54 g/m2/hari pada ekosistem padang rumput tropis dengan radiasi cahaya yang tinggi. 

b.      Proses respirasi

Pada kondisi optimum kecepatan fotosintesis dapat mencapai 30 x dari respirasi terutama pada tempat terendah cahaya matahari. Umumnya karbohidrat yang digunakan antara 10-75% tergantung jenis dan usia tumbuhan.

c.       Faktor lingkungan

Faktor lingkungan ada 2 yaitu faktor eksternal dan faaktor iternal. Faktor internal meliputi struktur dan komposisi komunitas, jenis dan usia tumbuhan, serta peneduhan. Faktor eksternal cahaya, karbohidrat, air, nutrisi, suhu, dan tanah.

1.      Cahaya

Cahaya merupakan sumber energi primer bagi ekosistem. Cahaya memiliki peran yang sangat vital dalam produktivitas primer. Oleh karena hanya dengan energi cahaya tumbuhan dan fitoplankton dapat menggerakkan mesin fotosintesis dalam tubuhnya. Hal ini berarti bahwa wilayah yang menerima lebihbanyak dan lebih lama penyinaran cahaya matahari tahunan akan memliki kesempatan berfotosintesis yang lebih panjang sehingga mendukung peningkatan produktivitas primer.

Panjang gelombang dan intensitas cahaya sangat beperan terhadap proses fotosintesis. Pada tumbuhan berklorofil gelombang cahaya merah dan biru diserap, sedangkan gelombang cahaya hijau dipantulkan atau tidak dapat dimanfaatkan dalam proses fotosintesis. Beda halnya pada tumbuhan yang menyerap energi cahaya oleh pigmen coklat dan pigmen biru seperti pada ganggang, maka cahaya hijau dapat diserap. Intensitas cahaya dapat menentukan jumlah energi yang dapat menyerap energi cahaya dan mengubahnya menjadi gula dengan efisiensi 20% sedangkan pada cahaya terang hanay 8%. Pada intensitas cahaya yang tinggi dapat merusak klorofil. Apabila faktor yang diperlukan berada dalam keadaan optimal, jumlah cahaya yang dipakai sebanding dengan jumlah cahaya yang diserap (dengan jumlah klorofil yang ada). Tumbuhan yang hidup pada habitat dengan intensitas cahaya tinggi akan beradaptasi dengan mempunyai jaringan aktif untuk fotosintesis dengan porsi tinggi. Sebaliknya pada tumbuhan yang beradaptasi dengan cahaya lemah, jumlah jaringan aktif untuk fotosintesis rendah atau jumlah klorofil rendah. Pengaruh intensitas cahaya pada tumbuhan jenis C3 dab C4 berbeda, yang mana tanaman C3 merupakan tanaman yang jenuh cahaya pada intensitas yang jauh di bawah penyinaran matahari penuh sedangkan tanaman C4 intensitas cahaya mendekati penyinarah penuh. Tanaman C3 merupakan tanaman yang produk awalnya stabil berasal dari pengikatan atau fiksasi karbon yaitu 3-karbon asam organik yang berasal dari proses karboksilasi dan pemecahan dari molekul aseptor 5-karbon. Contoh tanaman C3 adalah tanaman pada umumnya. Contoh tanaman C4 adalah tanaman berpembuluh seperti rumput-rumputan. Laju produktivitas bersih pada tanaman C4 biasanya tinggi diatas tanaman C3.

Pada ekosistem teresterial seperti hutan hujan tropis memiliki produktivitas primer yang palig tinggi karena wilayah hutan hujan tropis menerima lebih banyak sinar matahari tahunan yang tersedia bagi fotsintesis dibanding dengan iklim sedang.

 

2.      Karbon dioksida

Karbon dioksida diambil secara pasif dan dipengaruhi terutama oleh akdar karbon dioksida yang ada diluar dan didalam tumbuhan.

 

3.      Air

Jumlah air yang tidak memadai menghambat semua proses metabolisme termasuk fotosintesis karena stomata tertutup dan tumbuhan menjadi layu. Air merupakan bahan dasar dalam proses fotosintesis, sehingga ketersediaan air merupakan faktor pembatas terhadap aktivitas fotosintetik. Secara kimiawi air berperan sebagai pelarut universal, keberadaan air memungkinkan membawa serta nutrien yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Air memiliki siklus dalam ekosistem. Keberadaan air dalam ekosistem dalam bentuk air tanah, air sungai/perairan, dan air di atmosfer dalam bentuk uap. Uap di atmosfer dapat mengalami kondensasi lalu jatuh sebagai air hujan. Interaksi antara suhu dan air hujan yang banyak yang berlangsung sepanjang tahun menghasilkan kondisi kelembaban yang sangat ideal tumbuhan terutama pada hutan hujan tropis untuk meningkatkan produktivitas. Tingginya kelembaban pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas mikroorganisme. Selain itu, proses lain yang snagat dipengaruhi proses ini adalalah pelapukan tanah yang berlangsung cepat yang menyebabkan lepasnya unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Terjadinya petir dan badai selama hujan menyebabkan banyaknya nitrogen yang terfiksasi di udara, dan turun ke bumi bersama air hujan. Namun dmeikian, air yang jatuh sebagai hujan akan menyebabkan tanah-tanah yang tidak tertutupi vegetasi rentan mengalami pencucian yang akan mengurangi kesuburan tanah. Pencucian adalah penyebab utama hilangnya zat hara dalam ekosistem.

 

4.      Nutrien

Nutrien untuk sejumlah klorofil dan enzim yang berperan aktif dalam proses fotosintesis. Misalnya magnesium yang merupakan bagian utama dari molekul klorofil. Tumbuhan membutuhkan berbagai ragam nutrien anorganik, beberapa dalam jumlah relatif besar dan yang lainnya dalam jumlah sedikit, akan tetapi semuanya penting. Pada beberapa ekosistem teresterial nutrien organik merupakan faktor pembatas yang penting bagi produktivitas. Produktivitas dapat menurun bahkan berhenti jika suatu nutrien spesifik atau nutrin tunggal tidak lagi terdapat dalam jumlah yang mencukupi. Nutrien spesifik yang demikian disebut nutrien pembatas (limiting nutrient). Pada banyak ekosistem nitrogen dan fosfor merupakan nutrien pembatas utama, beberapa bukti juga menyatakan bahwa CO2 kadang-kadang membatasi produktivitas.

5.      Suhu

Laju proses kimia sangat ditentukan oleh keadaan suhu yang mana laju akan maksimal pada temperature optimum. Suhu secara langsung ataupun tidak langsung berpengaruh pada produktivitas. Secara langsung suhu berperan dalam mengontrol reaksi enzimatik dalam proses fotosintesis, sehingga tingginya suhu dapat meningkatkan laju maksimum fotosintesis.

6.      Tanah

Tanah merupakan tempat sebagian besar tumbuhan untuk hidup terutama tumbuhan darat. Di dalam tanah mengandung berbagai macam zat atau senyawa yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Salah satunya kandungan hidrogen. Potensi ketersediaan hidrogen yang tinggi pada tanah-tanah tropis disebabkan oleh produksinya asam organik secara kontinue melalui respirasi yang dilangsungkan oleh mikroorganisme tanah dan akar (respirasi tanah). Jika tanah dalam keadaan basah, maka karbon dioksida (CO2) dari respirasi tanah beserta air (H2O) akan membentuk asam karbonat (H2CO3) yang kemudian akan mengalami disosiasi menjadi bikarbonat (HCO3-) dan sebuah ion hidrogen bermuatan positif (H+). Ion hidrogen selanjutnya dapat menggantikan kation hara yang ada pada koloid tanah, kemudian bikarbonat bereaksi dengan kation yang dilepaskan oleh koloid, dan hasil reaksi ini dapat tercuci kebawah melalui profil tanah. Hidrogen yang dibebaskan ke tanah sebagai hasil aktivitas biologi, akan bereaksi dengan liat silikat dan membebaskan aluminium. Karena aluminium merupakan unsur yang terdapat dimana-mana di daerah hutan hujan tropis, maka aluminiumlah yang lebih dominan berasosiasi dengan tanah asam di daerah ini. Sulfat juga dapat menjadi sumber pembentuk asam di tanah. Sulfat ini dapat masuk ke ekosistem melalui hujan maupun jatuhan kering, juga melalui aktivitas organisme mikro yang melepaskan senyawa gas sulfur. Asam organik juga dapat dilepaskan dari aktivitas penguraian serasah.

7.      Struktur dan komposisi komunitas

Struktur dan komposisi komunitas sangat menentukan produktivitas. Bentuk pohon, perdu dan herba yang hidup pada habitat yang sama, akan menghasilkan produktivitas yang berbeda.

8.      Jenis dan umur tumbuhan

Perbedaan laju pertumbuhan diantara jenis-jenis yang berkompetisi dalam suatu ekosistem merupakan kejadian yang alami, dengan demikian akan terjadi pula perbedaan produktivitas pada fase pertumbuhan yang berbeda dari suatu jenis yang sama. Tumbuhan akan mencapai produktivitas maksimal pada fase muda. Ketika tubuh tumbuhan mengikat energi yang difiksasi lebih banyak digunakan untuk mengelola tubuhnya. Produktivitas yang berlebih digunakan untuk membentuk produktivitas bersih yang secara teratur menurun dalam masa pemasakan.

 

9.      Peneduhan

Bentuk-bentuk geometri tumbuhan dan kerapatannya sangat berperan dalam menentukaan efisiensi ekosistemnya. Tumbuhan yang emmiliki daun yang relatif lebar dan vertikal dapat menghasilkan area aktif fotosintesis maksimum dan total peneduhannya rendah. Informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas primer pada setiap tanaman terjadi pada tingkatan yang spesifik, keadaan yang sama juga terjadi pada daun-daun yang terisolasi. Dalam hal ini hanya memperhatikan salah satu faktor yang komplek yang mempengaruhi produktivitas primer yaitu struktur 3 dimensi dari sutau kanopi vegetasi. Faktor struktural ini mempengaruhi efisiensi kanopi sebagai suatu penangkap cahaya. Pada kanopi berdaun lebar sebagian cahaya tidak di serap dekat permukaan dan tingkat kanopi yang lebih rendah terlindungi lebih banyak. Akibatnya fotosintesis bersih cenderung terkonsentrasi di lapisan tengah pada tipe kanopi berdaun sempit. Posisi sudut daun mempengaruhi juga kedalaman penetrasi cahaya ke dalam kanopi. Penetrasi cahay akan lebih dalam bila daunnya tegak. Tanaman padi yang memiliki geometri sudut daun atau kanopi vertikal dan tipe berdaun sempit akan lebih efektif pada intensitas cahaya yang kuat dan ketika posisi matahari rendah. Kanopi horizontal dan tipe berdaun lebar akan lebih efektif pada intensitas cahaya rendah dan ketika matahari berada di atas kepala.

D.    Metode Untuk Penentuan Produktivitas Primer

Cara yang ideal untuk mengukur produktivitas ialah dengan cara mengukur arus energi yang melalui sistem. Dalam kenyataannya, pengukuran produktivitas dapat dilakukan dngan cara pengukuran yang didasarkan pada kuantitas tak langsung, antara lain dengan mengukur :

·         Jumlah senyawa yang dihasilkan

·         Bahan mentah yang diperlukan

·         Hasil samping yang dihasilkan

Beberapa metode pengukuran produktivitas antara lain sebagai berikut:

1.      Metode panen

Metode ini dilakukan dengan menimbang hasil panen. Metode ini kurang teliti jika sebagian hasil dimakan oleh herbivora.

2.      Metode karbon dioksida

Pada siang hari terjadi fotosintesis dan respirasi sedangkan pada malam harri hanya ada respirasi. Produktivitas prmer adalah sejumlah CO2 pada siang hari ditambah COpada malam hari.

3.      Lenyapnya bahan mentah

Lenyapnya kandungan bahab-bahan mentah yang terseda menggambarkan tingkat produktivitas.

4.      Metode klorofil

Metode ini berdasar pada kandungan klorofil per area dalam suatu komunitas.

Beberapa cara penentuan produktivitas primer adalah sebagai berikut:

1.      Metode penuaian

      Cara ini ditentukan berdasarkan berat pertumbuhan dari tumbuhan. Dapat dinyatakan secara langsung berat keringnya atau kalori yang terkandung, tetapi keduanya dinyatakan dalam luas dan periode waktu tertentu. Metode ini mengukur produktivitas primer bersih. Metode penuaian ini sangat cocok dan baik pada ekosistem daratan, dan biasanya untuk vegetasi sederhana. Tetapi dapat pula digunakan untuk ekosistem lainnya dengan syarat tumbuhan tahunan predominan dan tidak terdapat rerumputan. Untuk ini paling baik mencuplik produktivitas pada satu sei percontohan (cupkikan) selama satu musim tumbuh. Metode ini merupakan metode paling awal dalam mengukur produktivitas primer. Caranya adalah dengan memotong bagian tanaman yang berada doiatas permukaan tanah, baik pada tumbuhan yangtumbuh di tanah maupun yang didalam air. Bagian yang dipotong selanjutnya dipanaskan sampai seluruh airnya hilang atau beratnya konstan. Materi tersebut ditimbang, dan produktivita primer dinyatakan dalam bioomassa per unit area per unit waktu, misalnya sebagai gram berat kering/m2/ tahun. Metode ini menunjukkan perubahan berat kering selama periode wakru tertentu. Metode penuaian memang tidak cocok untuk mengukur produktivitas primer fitoplankton, karena ada beberapa kesalahan misalnya perubahan biomassa yang terjadi tidak hanya diakibatkan oleh produktivitas tetapi juga berkurangnya fitoplankton oleh hewan-hewan pada tropik diatasnya, atau mungkin jumlah fitoplankton berubah karena gerakan air dan pengadukan.

2.      Metode penentuan oksigen

    Oksigen merupakan hasil sampingan dari fotosintesis, sehingga ada hubungan erat antara produktivitas dengan oksigen yang bdihasilkan oleh tumbuhan. Tetapi harus diingat sebagian oksigen dimanfaatkan oleh tumbuhan tersebut dalam proses respirasi, dan harus diperhitungkan dalam penentuan produktivitas.

3.      Metode pengukuran karbon dioksida

Karbon dioksida yang dipakai dalam fotosintesis oleh tumbuhan dapat dipergunakan sebagai indikasi untuk produktivitas primer. Dalam hal ini seperti juga pada metode penentuan oksigen proses respirasi harus diperhitungkan. Metode ini cocok untuk tumbuhan darat dan dapat dipakai pada suatu organ daun, seluruh bagian tumbuhan dan bahkan satu komunitas tumbuhan. Ada dua tekhnik atau metode utama yaitu:

a.       Metode ruang tertutup

b.      Metode aerodinamik, metode ini maksudnya menutupi kelemahan-kelemahan pada metode ruang tertutup.

4.      Metode radioaktif

     Materi aktif yang dapat di identifikasi rasiasinya dimasukkan dalam sistem. Misalnya karbon aktif dapat di introduksi melalui suplai karbon dioksida yang nanyinya di asimilasikan oleh tumbuhan dan dipantau untuk mendapatkan perkira produktivitas. Tekhnik ini sangat mahal dan memerlukan peralatan yang cnaggih, tetapi memiliki kelebihan dari metode lainnya, yaitu dapat dipakai dalam berbagai tipe ekosistem tanpa melakukan penghancuran terhadap ekosistem.

5.      Metode penentuan klorofil

Produktivitas berhubungan erat dengan jumlah klorofil yang ada. Rasio asimilasi untuk tumbuhan atau ekosistem adalah laju dari produktivitas pergram klorofil. Konsentrasi klorofil dapat ditentukan berdasarkan cara yang sederhana, yaitu dengan cara mengekstraksi pigmen tumbuhan. Mula-mula dilakukan pencuplikan daun dengan ukuran tertentu. Untuk sampling fitoplankton dilakukan dengan pengambilan sampel air dalam volume tertentu. Organisme selain fitoplankton harus dipisahkan dari sampel. Sampel selanjutnya disaring dengan menggunakan filter khusus fitoplanktonpada pompa vakum dengan tekanan rendah. Filter yang mengandung klorofil dilarutkan pada aseton 85%, kemudian dibiarkan semalam, dan selanjutnya di sentrifuge. Bila rasio asimilasi, kadar klorofil, dan jumlah energgi cahaya diketahui,maka produktivitas primer kotor dapat diketahui. Metode ini dapat diterapkan pada berbagai tipe ekosistem.

6.      Penggunaan produksi primer oleh manusia

Di negara kurang berkembang, penduduk kekurangan protein, bahkan karbohidrat. Karena kenaikan penduduk yang besar maka kenaikan produksi pertanian tidak dapat mengejar. Hal ini juga disebabkan oleh kenaikan produksi pertanian kecil akibat tidak ada pertambahan energi. Pada keadaan tropis, tanaman penghasil protein menghasilkan kalori yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman tebu. Oleh karena itu, di daerah tropis tebu dianggap sebagai tanaman primadona. Umur tanaman tebu 12-14 bulan, hal ini menguntungkan daerah tropis karena:

·         Dapat memanfaatkan musim tanam yang panjang dan ini dapat mengimbangi produktivitas yang rendah dari daerah tropis.

·         Mengurangi pencucian makanan (unsur hara) yang diakibatkan oleh pengolahan yang berulang-ulang, tebu memerlukan keaadaan nutrisi yang rendah

7.      Produktivitas sekunder dan efisiensi ekologi

Produktivitas sekunder adalah kecepatan organisme heterotrof mengubah energi kimia dari bahan organik yang dimakan menjadi simpanan energi kimia baru didalam tubuhnya. Energi kimia dalam bahan organik yang berpindah dari produsen ke organisme heterotrof  (konsumen primer) dipegunakan untuk aktivitas hidup dan hanya sebagian yang dapat diubah menjadi energi kimia yang tersimpan didalam tubuhnya sebagai produktivitas bersih. Demikian juga perpindahan energi ke konsumen sekunder dan tersier akan selalu menjadi berkurang. Perbandingan produktivitas bersih antara trofik dengan trofik-trofik diatasnya dinamakan efisiensi ekologi. 


BAB III
      PENUTUP

A.    Kesimpulan

Produktivitas merupakan laju pemasukan dan penyimpanan energi didalam ekosistem. Karena produktivitas mengandung pengrtian tempat maka sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan setempat. Keadaan lingkungan yang mendukung untuk terjadinya proses-proses fisiologi secara optimal akan meningkatkan produktivitas. Sebaliknya lingkungan yang tidak mendukung untuk pertumbuhan organisme akan menghambat laju pertumbuhan bahan organik (biomassa).

1.   Produktivitas primer, meliputi produksi materi organik baru pada tumbuhan atau autotrof.

2.   Produktivitas sekunder, meliputi produksi materi organik pada hewan atau heterotrof.

Produktivitas primer merupakan laju penambatan energi yang dilakukan oleh produsen. Produktivitas primer menunjukkan jumlah energi cahaya yang diubah menjadi energi kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama suatu periode waktu tertentu. Total produktivitas primer dikenal sebagai produktivitas pimer kotor.

Metode untuk penentuan prosuktivitas primer yaitu:

1.      Metode penuaian

2.      Metode penentuan oksigen

3.      Metode pengukuran karbon dioksida

4.      Metode radioaktif

5.      Metode penentuan klorofil

6.      Penggunaan produksi primer oleh manusia

7.      Produktivitas sekunder dan efisiensi ekologi

 

B.     Saran

    Ekologi akan lebih mudah dipelajari jika memiliki banyak referensi buku dan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Pada pembahasan produksi dan produktivitas dalam ekosistem tersebut diharapkan para mampu menambah pengetahuan dan lebih memahami dalam mempelajarinya, sehingga para pembaca dapat menambah wawasan mengenai mata kuliah ekologi tumbuhan ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Suwasono Heddy, dkk. 1996. Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi: Suatu Bahasa Tentang Kaidah Ekologi dan Penerapannya. Jakarta : Pt Raja Grafindo Persada

Zoeraini Djamal Irwan. 2003. Prinsip-Prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem Komunitas Dan Lingkungan. Jakarta: Pt Bumi Aksara

Amin Setyo Leksono. 2007. Ekologi Pendekatan Deskriptif dan Kuantitatif. Malang : Bayu Media. 


EmoticonEmoticon