![]() |
| Gambar Thermometer |
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah................................................................................ .2
BAB II PEMBAHASAN
A. Tipe Perairan Darat............................................................................... 2
B. Faktor fisika-kimia peraiaran darat....................................................... 2
C. Factor
fisika-kimia perairan menggenang dan mengalir...................... 7
BAB III PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perairan dibumi ini
terdiri atas air tawar dan air asin. Perairan air tawar terdiri atas danau,
kolam, dan sungai. Selain itu adapula perairan payau yang merupakan campuran
dari air laut dan air sungai, sedangkan sungai termasuk ekosistem air mengalir.
Laut dibedakan air tawar karena kandungan kadar garam atau salinitas yang
tinggi.
Ekosistem aquatik
(habitat dengan air sebagai medium internal dan ekosistem) tidak bisa lepas
dari masalah kelestarian air itu sendiri sebagai komponen lingkungan hidup yang
utama. Kelestarian air dalam kualitas dan kuantitas yang cukup tidak saja
secara langsung menunjang kegiatan metabolisme komponen biotik dalam ekosistem
aquatik ini tetapi juga dirasakan langsung menunjang kebutuhan manusia.
Kualitas air salah satunya dapat dilihat dari sifat fisik dan sifat kimia.
Sifat-sifat fisika dan
kimia air sangat penting dalam ekologi. Panas jenis, panas peleburan laten,
serta panas penguapan air latennya yang cukup tinggi berperan dalam pengaturan
suhu organisme. Air merupakan media pengangkutan yang ideal bagi
molekul-molekul melalui tubuh organisme, karena ia adalah pelarut yang kuat
tanpa menjadi sangat aktif secara kimia. Tegangan permukaan air yang tinggi
menyebabkan pergerakan air melewati organisme, dan juga bertanggung jawab bagi
kenaikan tinggi air tanah. Rapatan air yang nisbi tinggi tidak hanya mendukung
bobot tubuh secara sebagian maupun seutuhnya, namun juga memungkinkan hadirnya
plankton. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dalam makalah ini akan
dibahas mengenai Karakteristik perairan tawar serta faktor-faktor fisik-kimia
yang ada di dalamnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
saja tipe-tipe perairan darat?
2. Apa
saja factor fisika pada perairan darat?
3. Apa saja faktor kimiawi pada perairan darat?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Tipe Perairan Darat (Inland Water)
B. Faktor Fisika-Kimia Perairan
1. Faktor Fisika Perairan
a) Arus
Arus
air adalah pergerakan massa air menuju ketempat lain yang disebabkan oleh
perbedaan ketinggian dasar perairan, kerapatan molekul air, atau karena tiupan
angin. Arus dapat bergerak secara vertikal maupun horisontal. Pada ekosistem
perairan arus memiliki peran yang sangat penting terutama berkaitan dengan pola
sebaran organisme, pengangkutan energi, gas-gas terlarut dan mineral di dalam
air.
Arus juga akan berpengaruh terhadap substrat dasar perairan. Dalam perairan dikenal ada dua tipe arus yaitu turbulen dan laminar. Turbulen merupakan arus air yang bergerak kesegala arah sehingga air akan terdistribusi keseluruh bagian perairan, sedangkan laminar yaitu arus air yang bergerak kesatu arah tertentu saja.
b). Suhu/Temperatur
Suhu pada ekosistem perairan berfluktuasi baik harian maupun tahunan, terutama mengikuti pola temperatur udara lingkungan sekitarnya, intensitas cahaya matahari, letak geografis, penaungan dan kondisi internal perairan itu sendiri seperti kekeruhan, kedalaman, kecepatan arus dan timbunan bahan organik di dasar perairan. Suhu memiliki peran yang sangat penting terhadap kehidupan di dalam air.
Pada ekosistem perairan daerah tropis suhu cenderung konstan sepanjang tahun, berbeda dengan ekosistem perairan di daerah subtropis. Hal ini berhubungan dengan musim. Di daerah tropis tidak mengenal musim dingin sehingga tidak ada kondisi dimana lingkungan berada pada suhu yang ekstrim rendah. Berhubungan dengan suhu perairan, harus diketahui bahwa organisme air memiliki kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap suhu media tempat hidupnya. Terdapat organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas terhadap perubahan suhu lingkungan (euriterm) dan ada jenis yang kisaran toleransinya sempit (stenoterm). Kondisi tersebut menyebabkan sesuatu yang wajar apabila terdapat perbedaan signifikan jenis organisme yang hidup pada daerah yang memilki letak geografis yang berbeda, karena organisme memiliki temperatur lethal baik lethal atas maupun lethal bawah terhadap suhu.
c). Substrat Dasar
Substrat dasar perairan dapat menjadi faktor pembatas, baik secara sendiri maupun komulatif terhadap organisme perairan. Substrat dasar perairan sangat berhubungan dengan kecepatan arus, dan aktivitas manusia di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Substrat dasar akan berpengaruh terhadap distribusi organisme perairan. Organisme perairan secara morfologi memiliki kekhasan tertentu untuk dapat hidup pada habitat perairan dengan tipe substrat dasar tertentu.
d). Kekeruhan/Turbiditas
Kekeruhan/turbiditas adalah banyaknya jumlah partikel tersuspensi di dalam air. Turbiditas pada ekositem perairan juga sangat berhubungan dengan kedalaman, kecepatan arus, tipe substrat dasar, dan suhu perairan. Pengaruh ekologis kekeruhan adalah menurunnya daya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan yang selanjutnya menurunkan produktivitas primer akibat penurunan fotosintesis fitoplankton dan tumbuhan bentik.
Peningkatan kekeruhan pada ekosistem perairan juga akan berakibat terhadap mekanisme pernafsan organisme perairan. Apabila kekeruhan semakin tinggi maka sebagian materi terlarut tersebut akan menempel pada bagian rambut-rambut insang sehingga kemampuan insang untuk mengambil oksigenterlarut menjadi menurun, bahkan pada tingkat kekeruhan tertentu dapat menyebabkan insang tidak dapat berfungsi dan menyebabkan kematian.
e). Penetrasi Cahaya/Kecerahan
Penetrasi cahaya matahari/tingkat kecerahan ke dalam perairan akan mempengaruhi produktifitas primer. Kedalaman penetrasi cahaya matahari kedalam perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: tingkat kekeruhan perairan, sudut datang cahaya matahari dan intensitas cahaya matahari. Bagi organisme perairan, intensitas cahaya matahari yang masuk berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme pada habitatnya.
f). Kedalaman
Kedalaman perairan berperan penting terhadap kehidupan biota pada ekosistem tersebut. Semakin dalam perairan maka terdapat zona-zona yang masing-masing memiliki kekhasan tertentu, seperti suhu, kelarutan gas-gas dalam air, kecepatan arus, penetrasi cahaya matahari dan tekanan hidrostatik. Perubahan faktor-faktor fisik dan kimiawi perairan akibat perubahan kedalaman akan menyebabkan respon yang berbeda biota di dalamnya.
2. Faktor Kimiawi Perairan
a). Ph (Derajat Keasaman)
Dalam air yang bersih, jumlah konsentrasi ion H+ dan OH־ berada dalam keseimbangan atau dikenal dengan pH 7. Peningkatan ion hidrogen akan menyebabkan nilai pH turun dan disebut sebagai larutan asam. Sebaliknya apabila ion hidrogen berkurang akan menyebabkan nilai pH naik dan dikenal dengan larutan basa. Organisme perairan dapat hidup ideal dalam kisaran pH antara asam lemah sampai dengan basa lemah. Kondisi perairan yang bersifat asam kuat ataupun basa kuat akan membahayakan kelangsungan hidup biota, karena akan menggangu proses metabolisme dan respirasi.
b). DO/Oksigen
c). BOD (Biological Oxygen Demand)
d). COD (Chemical Oxygen Demand)
e) Carbondioksida (CO2)
Karbondioksida dalam air dapat berasal dari pengikatan langsung dari udara bebas, dan melalui proses respirasi organisme. CO2 dalam air meskipun sangat mudah larut dalam air tetapi umumnya berada dalam keadaan terikat dengan air membentuk asam karbonat (H2CO3). Karbondioksida dalam perairan sangat dibutuhkan terutama oleh tumbu-tumbuhan air termasuk algae untuk fotosistesis. Ada perbedaan mendasar antara fotosintesis yang berlangsung pada tumbuhan aquatik dengan fotosintesis tumbuhan tersestrial. Sumber karbondioksida yang dibutuhkan pada proses fotosintesis tumbuhan terestrial sepenuhnya langsung diambil dari atmosfir, sementara proses fotosintesis dalam lingkungan aquatik tergantung pada sumber karbondioksida yang terlarut dalam air.
f). Nitrogen (N)
Fosfat dalam ekosistem perairan dapat terdapat dalam bentuk senyawa organik seperti protein ataupun gula, sebagian dalam bentuk kalsium fosfat (CaPO4) dan besi fosfat (FePO4) anorganik. Fosfat tersedia melimpah dalam perairan dalam bentuk ortofosfat. Senyawa anorganik ini dihasilkan oleh bakteri melalui pemecahan fosfat organik dari organisme yang mati.
C. Faktor Fisika-kimia Perairan Menggenang (Lentik) dan Mengalir (Lotik)
1.
Perairan Menggenang (Lentik)
Perairan menggenang
(Lentik) dibedakan menjadi perairan alamiah dan buatan. Berdasarkan proses
pembentukkannya perairan alami dibedakan menjadi perairan yang terbentuk karena
aktifitas tektonik dan karena aktifitas vulkanik. Beberapa contoh perairan
lentik yang alamiah antara lain: danau, rawa, situ, dan telaga, sedangkan
perairan buatan antara lain adalah waduk.
a.)
Arus
Tipe arus pada
ekosistem perairan menggenang (lentik) yang relatif dalam memungkinkan
terjadinya arus vertikal yaitu pergerakan air dari dasar ke permukaan yang
menyebabkan terjadinya upwelling atau sebaliknya. Hal tersebut karena adanya
stratifikasi suhu pada perairan tersebut. Kenaikan suhu perairan akan
menyebabkan menurunnya kerapatan molekul air, air akan bergerak dari massa yang
memiliki kerapatan molekul lebih tinggi ke yang lebih rendah. Arus vertikal ini
berperan sangat penting terhadap distribusi gas terlarut, mineral, kekeruhan,
dan organisme planktonik.
b.)
Suhu
Suhu air akan menurun
dengan meningkatnya kedalaman, sampai batas zona fotik dan setelah itu suhu
relatif stabil. Pada zona mesofotik terjadi penurunan suhu yang sangat drastis,
wilayah ini dikenal sebagai termoklin. Pada danau vulkanik suhu
cenderung tinggi dan menjadi faktor pembatas utama bagi kehidupan. Pada
perkembangannya suhu pada danau vulkanik akan menurun sampai batas tertentu
mengikuti perubahan suhu lingkungan terestrial di daerah tersebut.
c.)
Kekeruhan
Pada awal pembentukan
Kekeruhan pada ekosistem danau cenderung rendah, hal ini karena kandungan bahan
organik pada ekosistem ini masih sedikit dan organisme yang hidup di daerah ini
juga relatif sedikit.
d.)
Derajat Keasaman (pH)
Tingkat derajat
keasaman (pH) pada masing-masing perairan menggenang (Lentik) adalah
berbeda-beda, tergantung pada proses pembentukan, tempat, dan penggunaan
perairan tersebut. Serta bahan-bahan organik yang berasal dari daratan yang
masuk ke dalam perairan.
e.)
DO, BOD, dan COD
DO pada ekosistem danau
pada awal perkembangannya relatif tinggi, karena pemanfaatan oleh aktivitas
organisme rendah. Sumber oksigen terlarut utamanya berasal dari pengikatan
langsung dari udara, sedangkan dari aktivitas fotosintesis masih sangat rendah.
Pada tahap perkembangan selanjutnya DO akan fluktuatif sesuai dengan banyaknya
aktifitas hidup, dan penyuburan. BOD juga relatif kecil karena bahan organik
dalam ekosistem masih rendah, COD juga demikian.
2.
Perairan Mengalir (Lotik)
Pada ekosistem lotik
arus memiliki peranan yang sangat penting. Pada ekosistem ini arus sangat
fluktuatif dari waktu ke waktu karena dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain sudut kemiringan dasar perairan, tipe substrat dasar, musim, debit air,
luas permukaan perairan, dan tipe alur sungai (lurus atau berkelok).
a.)
Kecepatan Arus
Pada ekosistem sungai
yang lurus arus cenderung bergerak relatif lebih cepat, apalagi jika volume
debit air besar (musim penghujan) dan dengan sudut kemiringan dasar perairan
besar. Dengan kondisi demikian dan adanya arus turbulen maka air sungai dapat bergerak
keluar dari badan air dan menggenangi wilayah di sekitar Daerah Aliran Sungai
(DAS). Pada alur sungai yang lurus arus air tercepat berada pada bagian tengah
sungai, karena daerah ini tidak ada gesekan secara fisik dengan dua sisi DAS
yang dapat memperlambat aliran. Pada alur sungai yang berkelok (meander),
kecepatan arus paling tinggi akan dijumpai pada bagian luar pinggir sungai.
Daerah berarus lambat
merupakan habitat sangat ideal bagi organisme air yang secara morfologi bukan
tipikal organisme yang mampu beradaptasi terhadap habitat perairan berarus
deras. Beberapa organisme yang beradaptasi secara tingkah laku seperti ini
antara lain adalah berbagai jenis larva arthropoda, crustacea, dan beberapa
jenis ikan seperti ikan lele (Clarias sp.) yang secara morfologi
bukan tipikal ikan yang berhabitat alamiah di perairan berarus deras.
b.)
Substrat Dasar
Pada ekosistem sungai
yang didominasi oleh substrat dasar berbatu akan ditemui kondisi arus dengan
kecepatan relatif lambat, terutama di belakang batubatuan besar di dasar
perairan.
c.)
Kedalaman
Pada
sungai dapat dijumpai tingkat yang lebih tua dari hulu ke hilir, perubahan
lebih terlihat pada bagian atas aliran air, dan komposisi kimia berubah dengan
cepat. Dan komposisi komunitas berubah sewajarnya yang lebih jelas pada
kilometer pertama dibanding lima puluh (50) kilometer terakhir (Odum, 1988).
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Ekosistem
perairan di daratan secara umum dibagi menjadi 2 yaitu perairan mengalir
(lotic water) dan perairan menggenang (lentic water). Perairan
mengalir dicirikan adanya arus yang terus menerus dengan kecepatan
bervariasi sehingga perpindahan massa air berlangsung
terus-menerus. Sedangkan Perairan menggenang disebut juga perairan
tenang yaitu perairan dimana aliran air lambat atau bahkan tidak
ada dan massa air terakumulasi dalam periode waktu yang lama. Contoh perairan
lentik antara lain: Waduk, danau, kolam, telaga, situ, belik, dan lain-lain.
2. Faktor
Fisika perairan darat terdiri atas :
·
Kecepatan Arus
·
Suhu/Temperatur
·
Tingkat Kecerahan
·
Kedalaman
3. Factor
kimiawi perairan darat terdiri atas :
·
DO, BOD, dan COD
·
Nitrogen
·
Fosfor
·
Derajat Keasaman (pH)
·
Substrat dasar
·
Karbondioksida perairan
4. Masing-masing
tipe perairan darat, baik perairan lentik maupun lotik memiliki nilai
fisik-kimia yang berbeda-beda, tergantung pada lingkungan sekitar tempat
perairan tersebut berada.
DAFTAR PUSTAKA
Dafiuddin Salim. Dkk. 2017. “Karakteristik Parameter Oseanografi Fisika-Kimia Perairan Pulau Kerumputan Kabupaten Kotabaru Kalimantan selatan”. Jurnal Enggano. Vol. 2, No. 2.
Dika Nugraini Pancawati. 2014. “ Karakteristik Fisika Kimia Perairan Habitat Bivalvia Di Sungai Wiso Jepara”. Jurnal Diponegoro. Volume 3, Nomor 4.
Odum.
E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi
Edisi ketiga. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press


EmoticonEmoticon