26 Oktober 2024

Apa itu plasenta? Bentuk-Tipe, Fungsi, dan Proses Pembentukan

 

Plasenta
Gambar Plasenta


BAB I
PENDAHULUAN 

       A.    Latar Belakang

Janin di dalam kandungan memerlukan makanan dan nutrisi yang menjadikannya tumbuh dan berkembang. Di dalam rahim ibu, janin mempunyai saluran pengikat antara ibu dan bayi yang biasa kita sebut sebagai plasenta. Plasenta merupakan organ yang luar biasa. Plasenta berasal dari lapisan trofoblas pada ovum yang dibuahi, lalu terhubung dengan sirkulasi ibu untuk melakukan fungsi-fungsi yang belum dapat dilakukan oleh janin itu sendiri selama kehidupan intra uterin. Keberhasilan janin untuk hidup tergantung atas keutuhan dan efisiensi plasenta.

Plasenta berperan penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup bayi. Plasenta atau biasa kita sebut ari-ari, baru terbentuk pada minggu keempat kehamilan. Ia lalu tumbuh dan berkembang bersama janin dan akan lepas saat bayi dilahirkan. Jadi, plasenta merupakan bagian dari konsepsi atau bagian dari sel telur yang dibuahi sperma.

Sel telur yang dibuahi sperma itu kelak akan berkembang menjadi janin, air ketuban, selaput ketuban, dan plasenta. Plasenta berbatasan dan berhubungan dengan selaput ketuban. Di dalam selaput terdapat kantong amnion (ketuban), di mana di dalamnya terdapat bayi berada. Plasenta dikenal juga dengan istilah uri/tembuni. Plasenta merupakan organ sementara yang menghubungkan ibu dengan janin. Plasenta merupakan alat pertukaran zat antara ibu dan janin.

       B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

        1.      Apakah yang dimaksud dengan plasenta?

        2.      Bagaimana proses pembentukan plasenta?

        3.      Bagaimana bentuk dan tipe-tipe plasenta?

        4.      Apasajakah fungsi plasenta?

 

       C.    Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain, sebagai berikut:

        1.      Menjelaskan definisi dari plasenta

        2.      Menjelaskan proses pembentukan plasenta

        3.      Membedakan tipe-tipe dan jenis-jenis plasenta

        4.      Mendeskripsikan fungsi dari plasenta

 

BAB II
PEMBAHASAN

        A.    Definisi Plasenta

Plasenta adalah alat yang sangat penting bagi janin karena merupakan alat pertukaran zat antara ibu dan anak. Pertumbuhan plasenta semakin lama semakin besar dan luas, umumnya mencapai pembentukan lengkap pada usia kehamilan sekitar 16 minggu. Jiwa anak tergantung plasenta, baik tidaknya anak tergantung pada baik buruknya plasenta. Plasenta merupakan organ sementara yang menghubungkan ibu dengan janin. Plasenta memproduksi beberapa hormon penting dalam kehamilan yaitu Human Chorionic Gonatropi (HCG) dan Human Plasenta Lactagen (HCL).
    Plasenta berperan penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup bayi. Plasenta atau biasa kita sebut ari-ari, baru terbentuk pada minggu keempat kehamilan. Ia lalu tumbuh dan berkembang bersama janin dan akan lepas saat bayi dilahirkan. Jadi, plasenta merupakan bagian dari konsepsi atau bagian dari sel telur yang dibuahi sperma.

        B.     Pembentukan Plasenta

        1.      Stadium berongga (lacunar stage)

Pada hari 8-9, perkembangan trofoblas sangat cepat, dari selapis sel tumbuh menjadi berlapis-lapis. Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada lapisan sinsitiotrofoblas (selanjutnya disebut sinsitium) yang akhirnya saling berhubungan.

        2.      Sirkulasi uteroplasenta/sistem sirkulasi feto-maternal

Pertumbuhan sinsitium ke dalam stroma endometrium makin dalam kemudian terjadi perusakan endotel kapiler di sekitarnya, sehingga rongga-rongga sinsitium (sistem lakuna) tersebut dialiri masuk oleh darah ibu, membentuk sinusoid-sinusoid. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya sistem sirkulasi uteroplasenta/sistem sirkulasi feto-maternal.

Antara lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser, terbentuk sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan penyambung yang lembut, yang disebut mesoderm ekstraembrional. Bagian yang berbatasan dengan sitotrofoblas disebut mesoderm ekstraembrional somatopleural, kemudian akan menjadi selaput korion (chorionic plate).Bagian yang berbatasan dengan selaput Heuser dan menutupi bakal yolk sac disebut mesoderm ekstraembrional splanknopleural. Menjelang akhir minggu kedua (hari 13-14), seluruh lingkaran blastokista telah terbenam dalam uterus dan diliputi pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah ibu. Meski demikian, hanya sistem trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih aktif dibandingkan daerah lainnya.

       3.      Terbentuknya rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau rongga korion (chorionic space)

Di dalam lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang makin lama makin besar dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang memisahkan kandung kuning telur makin jauh dari sitotrofoblas. Rongga ini disebut rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau rongga korion (chorionic space). Di sisi embrioblas (kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas mengadakan invasi ke arah lapisan sinsitium, membentuk sekelompok sel yang dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot primer (primary stem villi). Jonjot ini memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu.

        4.      Terbentuknya tali pusat

Pada awal minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang terdapat di bawah jonjot-jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah kutub embrional), ikut menginvasi ke dalam jonjot sehingga membentuk jonjot sekunder (secondary stem villi) yang terdiri dari inti mesoderm dilapisi selapis sel sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas.

Menjelang akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya, mesoderm dalam jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh kapiler, sehingga jonjot yang tadinya hanya selular kemudian menjadi suatu jaringan vaskular (disebut jonjot tersier/tertiary stem villi).

Selom ekstraembrional/rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan embrional makin terpisah dari sitotrofoblas/selaput korion, hanya dihubungkan oleh sedikit jaringan mesoderm yang kemudian menjadi tangkai penghubung (connecting stalk). Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk tersebut akan menjadi tali pusat.

        5.      Sirkulasi feto-maternal

Setelah infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring dengan perkembangan trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah komponen sirkulasi utero-plasenta. Melalui pembuluh darah tali pusat, sirkulasi utero-plasenta dihubungkan dengan sirkulasi janin. Meskipun demikian, darah ibu dan darah janin tetap tidak bercampur menjadi satu (disebut sistem hemochorial), tetap terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion. Dengan demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan dengan komponen sirkulasi dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem tersebut dinamakan sirkulasi feto-maternal.

        6.      Plasenta “dewasa”

Pertumbuhan plasenta makin lama makin besar dan luas, umumnya mencapai pembentukan lengkap pada usia kehamilan sekitar 16 minggu. Plasenta “dewasa” / lengkap yang normal:

  1.       Bentuk bundar/oval
  2.       Diameter 15-25 cm, tebal 3-5 cm
  3.       Berat rata-rata 500-600 g
  4.      Insersi tali pusat (tempat berhubungan dengan plasenta) dapat di tengah / sentralis, di samping    atau di ujung tepi / marginalis,   
  5.      Di sisi ibu, tampak daerah2 yang agak menonjol (kotiledon) yang diliputi selaput tipis desidua    basalis
  6.       Di sisi janin, tampak sejumlah arteri dan vena besar (pembuluh korion) menuju tali pusat. Korion  diliputi oleh amnion
  7.       Sirkulasi darah ibu di plasenta sekitar 300 cc/menit (20 minggu) meningkat sampai 600-700         cc /menit (aterm).

 C.     Tipe dan Jenis-jenis plasenta

Tipe-Tipe Plasenta Menurut bentuknya, plasenta terbagi menjadi: 

        1.      Plasenta normal

        2.      Plasenta membranasea (tipis)

        3.      Plasenta suksenturiati (satu lobus terpisah)

        4.      Plasenta spuria

        5.      Plasenta bilobus (2 lobus)

        6.      Plasenta trilobus (3 lobus)

        Menurut perlekatan pada dinding rahim, adalah sebagai berikut:

        1.      Plasenta adhesiva (lebih melekat)

        2.      Plasenta akreta (lebih melekat)

        3.      Plasenta inkreta (sampai ke otot polos)

        4.      Plasenta perkreta (sampai ke serosa

 

        D.    Fungsi plasenta (ari-ari)

        1.      Pernapasan

Janin sebagai manusia yang masih dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan tentu membutuhkan oksigen. Nah oksigen yang dihirup oleh ibu akan dialirkan kepada janinnya melalui tali pusar. Lalu organ ini akan mengedarkan darah yang berisi oksigen dari ibu ke janin melalui proses difusi. Kemudian karbondioksida yang terbentuk akan dibawa melalui tali pusar dan berdifusi ke tubuh ibu dengan bantuan sistem peredaran darah, sebelum akhirnya dikeluarkan melalui sistem pernapasan ibu.

        2.      Nutrisi

Plasenta dapat mengubah glukosa menjadi glikoden (bentuk karbohidrat yang dapat disimpan di hati sebagai cadangan glukosa). Nutrisi yang didapatkan oleh janin akan berguna untuk pertumbuhan dan pembentukan jaringan ketika dibutuhkan.

        3.      Eksresi (Pembuangan)

Plasenta akan membuang setiap produk limbah yang tidak diperlukan oleh tubuh janin (contohnya urea dan karbodioksida).

        4.      Pertahanan (Kekebalan Tubuh)

Fungsi pertahanan pada plasenta dicapai dari dua cara, yaitu kimia dan fisik. Secara kimia fungsi pertahanan ini berjalan melalui fungsi enzim, dimana plasenta akan menetralisir aktivitas toksik yang dicurigai. Selain itu ibu juga memberikan antibodinya pada janin. Sedangkan secara fisik sudah terbentuk struktur yang diciptakan sedemikian rupa sehingga bayi terlindungi dengan baik. Pertahanan (kekebalan) tubuh sangatlah penting bagi janin, karena hati mereka belum mampu mengatasi unsur berbahaya yang berasal dari darah ibu.

        5.      Produksi hormon

Plasenta juga berperan dalam memproduksi beberapa hormon, antara lain adalah :

a)     Human Chorionic Gonadotropin (HCG), berfungsi untuk mencegah terjadinya menstruasi dan menjaga kehamilan,

b)  Chorionic Somatomammotropin (Placental lactogen), memiliki fungsi khusus dalam hubungannya dengan nutrisi bagi ibu dan janin.

c)  Estrogen, berfungsi untuk membantu pembesaran uterus, pembesaran dan perkembangan payudara.

d)    Progesteron, berfungsi untuk memberikan nutrisi awal bagi embrio dan mencegah kontraksi uterus spontan yang dapat menyebabkan keguguran.

e) Tirotropin korionik dan relaksin, hormon penunjang (hanya memberikan sedikit perubahan/dampak) dalam kehamilan.


EmoticonEmoticon