
Ilustrasi Tumbuhan

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena berkat
limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
dengan judul Interaksi Tumbuhan Interspesifik dan
Intraspesifik (spesies).
Makalah ini secara khusus disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan pada Semester VI tahun 2020.
Makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, pada kesempatan kali ini kami menyampaikan terimakasih pada seluruh
pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.Kami menyadari bahwa masih
banyak kekurangan, kekeliruan dan kesalahan yang terdapat pada makalah ini.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan dapat
disampaikan kepada kami.
Banda
Aceh, 06
April 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan.....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Interaksi pada Tumbuhan.....................................................................4
B. Jenis – jenis Interaksi………………………………………………….................7
C. Kompetisi Intraspesifik
dan Interspesifik ………………………..........................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................... ..................16
B. Saran....................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Ketika
kita mendengar kata interaksi tentunya hal ini mengacu pada hubungan antar satu
sama lain dalam suatu kelompok. Kali ini kami akan membahas
mengenai interaksi antar spesies. Seperti kita tahu dalam suatu spesies
terdapat beragam individu (populasi) namun pada intinya mereka mempunyai
hubungan kekerabatan antar satu sama lain. Namun hubungan atau
interaksi antar satu sama lain, dapat menguntungkan satu pihak, kedua pihak,
maupun merugikan salah satu pihak. Maka dari itu kami akan membahas secara
runtut dan berurut antara lain : Tipe-tipe Interaksi Antar-spesies dan
Persaingan Intra-Interspesifik.
Semua
makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu
akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik
individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain.
Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.
Setiap
komponen biotik dan abiotik selalu berintertaksi membentuk hubungan yang saling
ketergantungan, misalnya makhluk hidup memerlukan udara untuk bernapas,
tumbuhan hijau memerlukan cahaya untuk berfotosintesis. Selain itu
ketergantungan komponen abiotik terhadap komponen biotik, misalnya cacing tanah
menggemburkan tanah, tumbuhan untuk menahan erosi, tumbuhan hijau untuk
mengurangi pencemaran udara.
Pembahasan
pertama yakni tipe - tipe interkasi antar-spesies, dalam interaksi ini secara
teori, spesies-spesies dalam suatu populasi saling berinteraksi satu dengan
lainnya. Dan membentuk interaksi yang positif, negatif,maupun NOL.
Interaksi
antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat.
Interaksi antar organisme dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Netral
2. Predasi
3. Parasitisme
4. Komensalisme
5. Mutualisme
Adapun
persaingan terjadi ketika organisme baik dari spesies yang sama maupun dari
spesies yang berbeda menggunakan sumber daya alam. Di dalam menggunakan sumber
daya alam, tiap-tiap organisme yang bersaing akan memperebutkan sesuatu yang
diperlukan untuk hidup dan pertumbuhannya Persaingan yang dilakukan
organisme-organisme dapat memperebutkan kebutuhan ruang (tempat), makanan,
unsure hara, air, sinar, udara, agen penyerbukan, agen dispersal, atau
faktor-faktor ekologi lainnya sebagai sumber daya yang dibutuhkan oleh
tiap-tiap organisme untuk hidup dan pertumbuhannya.
B. Rumusan masalah
1.
Jelaskan
Pengertian Interaksi pada Tumbuhan?
2.
Sebutkan macam-macam
interaksi spesies.?
3.
Jelaskan
Kompetisi Intraspesifik
dan Interspesifik?
C. Tujuan
1.
Untuk memahami interaksi
spesies dalam ekologi
2. Untuk Mengetahui Kompetisi Intraspesifik dan Interspesifik
3. Untuk mengetahui macam-macam interaksi spesies
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Interaksi pada Tumbuhan
Interaksi
adalah huungan antara makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya. Ada dua
macam interaksi berdasarkan jenis organisme yaitu intraspesies dan
interspesies. Interaksi intraspesies adalah hubungan antara organisme yang
berasal dari satu spesies, sedangkan interaksi interspesies adalah hubungan
yang terjadi antara organisme yang berasal dari spesies yang berbeda. Secara
garis besar interaksi intraspesies dan interspesies dapat dikelompokkan menjadi
beberapa bentuk dasar hubungan, yaitu:
a. Netralisme,
yaitu hubungan antara makhluk hidup antara makhluk hidup yang tidak saling
menguntungkan dan tidak saling merugikan satu sama lain.
b. Mutualisme,
yaitu hubungan antara dua jenis makhluk hidup yang saling menguntungkan, bila
keduanya berada pada satu tempat akan hidup layak tapi bila keduanya berpisah
masing-masing jenis tidak dapat hidup layak.
c. Parasitisme,
yaitu ubungan yang hanya menguntungkan satu jenis makluk hidup saja, sedangkan
jenis lainnya dirugikan.
d. Predatorisme,
yaitu hubunga pemangsaan antara satu jenis makhluk hidup terhadap makhluk hidup
yang lain.
e. Kooperasi,
yaitu huungan antara dua makhluk hidup yang bersifat saling membantu antara
keduanya.
f. Kompetisi
adalah bentuk hubungan yang terjadi akibat adanya keterbatasan sumber daya alam
pada suatu tempat.
g. Komensalisme
adalah hubungan antara dua makhluk hidup, makluk idup yang satu mendapat
keuntungan sedang yang lainnya tidak dirugikan.
h. Antagonis
adalah hubungan antara dua makhluk hidup yang bersifat bermusuhan.
B. Jenis – jenis Interaksi
Dalam
sebuah ekosistem yang terdapat beberapa populasi di dalamnya, maka akan terjadi
interaksi antara individu dan populasi tersebut. Hubungan tersebut disebut
hukum interaksi. Hukum interaksi tersebut meliputi :
1. Kompetisi
Interaksi
kompetisi yaitu hubungan antara komponen ekosistem yang saling bersaing satu
sama lain untuk tujuan yang sama. Misalnya kerbau dan kambing yang sama-sama
bersaing mengkonsumsi rumput. Atau harimau dan singa yang sama-sama berburu
mangsa.
2. Endimis
sirpentin
Endemik
atau endemis berarti eksklusif asli pada suatu tempat (biota). Di dalam suatu
pulau dapat terbentuk wilayah/habitat endemik karena adanya proses pembentukan
batuan kapur, batuan serpentin, batuan vulkanik atau batuan lainnya. Pada
konteks endemisitas, terbentuknya habitat dari batuan serpentin menyebabkan
terbentuknya jenis tumbuhan endemik serpentin. Komunitas tumbuhan pada area
serpentin umumnya kerdil dan umumnya hanya tumbuh pada habitat tersebut.
Habitat ini umumnya berupa area terbuka dan berbatu, dengan vegetasi umum
berupa tumbuhan semak dan terkadang pohon dengan daun keperakan atau kecoklatan
karena struktur bulunya bersifat memantulkan cahaya.
Tanah serpentin juga memiliki kandungan logam berat yang tinggi seperti kromium, kobalt, dan nikel. Serpentin juga kaya serat silika yang dikenal dengan nama asbestos. Mineral asbestos ini lebih banyak merugikan manusia daripada tumbuhan karena dapat menyebabkan kanker. Tantangan lain pada tanah serpentin adalah ketiadaan zat hara (nutrisi). Kandungan kalsium (Ca) pada tanah ini biasanya rendah, sebaliknya kandungan Mg tinggi. Contoh tumbuhan yang hidup ditanah serpentin adalah sebagai berikut :
3. Halofit
Tumbuhan
Halofit yaitu tumbuhan yang mampu pada kondisi kadar garam yang tinggi (salinitas)
beradaptasi dengan cara membentuk kelenjar garam yang terdapat pada daun,
memiliki jaringan aerenkim dengan ruang antar sel yang besar dan jaringan
pembuluh tersebar. Tumbuhan halofit merupakan tumbuhan pantai yang hidup
pada kondisi selalu tergenang ataupun terkadang tergenang air laut. Tumbuhan
ini hidup pada kondisi kadar salinitas air laut yang tinggi. Oleh karena itu,
tumbuhan pantai umumnya memiliki adaptasi yang unik terhadap kondisi lingkungan
tersebut.
Adapun
bentuk adaptasinya adalah memiliki jaringan aerenkim dengan ruang antar sel
yang besar dan jaringan pembuluh tersebar. Contoh tumbuhan mangrove menyerap
air tetapi mencegah masuknya garam, melalui saringan (ultra filter) yang
terdapat pada akar . Flora mangrove menyerap air dengan salinitas tinggi
kemudian mengekskresikan garam dengan kelenjar garam yang terdapat pada
daun. Berikut contoh gambar tumbuhan mangrove.
Tidak
semua halofit setara dalam toleransi garam, dibedakan intoleran, fakultatis,
dan obligat.Tetapi kebanyakan halofit adalah intoleran, yaitu tumbuh
maksimum pada salinitas rendah dan menurun pada salinitas naik.
Tumbuhan yg hidup subur di daerah atau lingkungan (tanah) yg berkadar
garam tinggi, msl rumput inggris; Armeria maritina
4. Kompetisi
dan Niche
Niche
menurut Grinnel (1917, 1924, 1928) merupakan peran fungsional dan kedudukan
organisme dalam komunitas. Menurut Elton (1972) niche didefinisikan sebagai
suatu tempat yang berhubungan dengan makanan dan kompetisi dan juga status
organisme dalam komunitas. Menurutnya niche dari hewan dapat didefinisikan
dalam range yang lebih luas lagi menurut ukuran dan makanannya. Menurut Odum
(1959), definisi niche ekologi adalah posisi atau status dari struktur adaptasi
organisme, respon psikologi, dan tingkah laku spesifik. Adapun niche menurut
Keindegh (1980), yaitu kedudukan khusus dalam suatu komunitas suatu populasi
spesies. Jadi niche (relung) dapat diartikan sebagai suatu kedudukan dari
organisme tetentu dalam ekosistem terikat dengan adaptasi morfologi, struktur,
dan fungsional. Dengan demikian niche overlap dapat diartikan sebagai suatu
kedudukan atau posisi organisme yang tumpang tindih dengan organisme yang lain
di dalam ekosistem dalam hal ukuran habitat dan makanannya.
Kompetisi
adalah salah satu bentuk interaksi antar dua atau banyak individu apabila
suplai sumber yang diperlukan bersifat terbatas. Peran suatu spesies di
dalam komunitasnya disebut peran ekologi (niche). Sebuah peran ekologi terdiri
dari cara-cara sebuah spesies berinteraksi di dalam lingkungannya, termasuk
diantaranya faktor-faktor tertentu seperti apa yang dimakan atau apa yang
digunakan untuk energi, predator yang memangsa, jumlah panas, cahaya atau
kelembaban udara yang dibutuhkan, dan kondisi dimana dapat
direproduksi. Kompetisi dibedakan menjadi dua, yaitu kompetisi
intraspesifik dan interspesifik. Intraspesifik adalah persaingan antara
organisme yang sama dalam lahan yang sama sedangkan kompetisi interspesifik
adalah persaingan atara organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama.
5. Amensalisme
Amensalisme
adalah interaksi yang menekan satu organisme, sedangkan yang lain tetap stabil
atau salah satu organisme dirugikan tapi organisme lainnya tidak
diuntungkan maupun dirugikan.. Amensalisme juga disebut sebagai suatu interaksi
bersifat negatif, dimana salah satu anggotanya terhambat dan yang lain tidak
terpengaruh. Contohnya adalah jamur Penicilium yang mensekresikan
penisilin dengan bakteri. Penisilin mampu membunuh bakteri. Sehingga bakteri
dirugikan, tetapi jamur Penicillium tidak mendapatkan keuntungan
maupun kerugian. Salah satu contoh amensalisme adalah interaksi
alelokemis, yaitu penghambatan satu organisme oleh organisme lain melalui
pelepasan produk metabolit ke lingkungan. Bagian interaksi alelokemis yang melibatkan
hanya tumbuhan saja disebut alelopati.
6. Interaksi
Alelokemis pada Level Produser – Dekomposer
Kebanyakan
dekomposer dalam tanah yang serasah dibawah suatu komunitas dipengaruhi spesies
tumbuhan yang menggugurkan serasah penitrasi akar dalam tanah. Tanah dibawah
hutan conifer umumnya asam karena serasah conifer bersifat asam dan
dekomposisinya mempengaruhi PH tanah. Sebagai hasil, fungi medominer mikroflora
tanah, sedangkan bakteria mendominer tanah netral.
7. Alelopati
Alelopati merupakan
interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat
menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut
(juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat
yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal
sebagai anabiosa atau antibiotisme. Contoh, jamur Penicillium
sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri
tertentu.
Fenomena
alelopati mencakup semua tipe interaksi kimia antar tumbuhan, antar
mikroorganisme, atau antara tumbuhan dan mikroorganisme (Einhellig, 1995a).
Menurut Rice (1984) interaksi tersebut meliputi penghambatan dan pemacuan
secara langsung atau tidak langsung suatu senyawa kimia yang dibentuk oleh
suatu organisme (tumbuhan, hewan atau mikrobia) terhadap pertumbuhan dan
perkembangan organisme lain. Senyawa kimia yang berperan dalam mekanisme itu
disebut alelokimia. Pengaruh alelokimia bersifat selektif, yaitu berpengaruh
terhadap jenis organisme tertentu namun tidak terhadap organisme lain (Weston,
1996).
Alelokimia
pada tumbuhan dilepas ke lingkungan dan mencapai organisme sasaran melalui
berbagai cara yaitu :
a. Penguapan
Senyawa
alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang
melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan
adalahArtemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya
termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan
di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam
tanah yang akan diserap akar.
b. Eksudat
akar
Banyak
terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar),
yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat. Lantana
atau Saliara Akar
dan tunas tanaman ini dapat mengurangi perkecambahan gulma anggur dan
gulma lainnya.
c. Pencucian
Sejumlah
senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas
permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun
tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis
tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.
d. Pembusukan
organ tumbuhan
Setelah
tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah
larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati
akan kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa
kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni
tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya.
e. Alelokemis
pada level Produser-Herbivora
Interaksi
alelokemis, yaitu penghambatan satu organisme oleh organisme lain melalui
pelepasan produk metabolit ke lingkungan. Untuk hebivora tertentu, semua
spesies tumbuhan rasanya tidak harus sama. Banyak spesies ditolak total,
beberapa dimakan dan sangat disenangi dan yang lainnya dimakan kalau yang
disenangi tidak ada.
f. Interaksi
antara Tumbuhan Epifit dengan Inangnya
Tumbuhan
epifit artinya tumbuhan yang menempel pada bagian luar tumbuhan lain. Tumbuhan
yang menempel itu tidak merugikan tumbuhan yang ditumpangi (komensalisme). Contohnya
: tumbuhan paku-pakuan dan anggrek yang tumbuh pada ranting atau batang pohon
tumbuhan berkayu.
g. Interaksi
antara Tali Putri dengan Inangnya
Tali
putri yang berwarna ilmiah Cuscuta sp, warnanya yang kuning keemasan
akan tampak cemerlang jika mendapat sinar matahari. Tali putri punya sifat
merugikan. Kehadirannya pada tumbuhan melalui pola hubungan simbiosis
paratisme. Tali putri memang tumbuhan parasit yang bisa membunuh inangnya.
C. Kompetisi
Intraspesifik dan Interspesifik
Semua
spesies tumbuhan membutuhkan bahan-bahan organik maupun anorganik. Seperti
unsur-unsur hara dalam tanah, cahaya, air, karbondioksida maupun gas lainnya,
dan ruang lingkupnya untuk menunjang aktivitas hidupnya, termasuk gulma. Jika
terdapat dua tumbuhan yang tumbuh berdekatan maka per-akar-an diantara dua
tumbuhan tersebut akan saling rapat dan tajuk kedua tumbuhan saling menaungi
sehingga tumbuhan yang memiliki perakaran yang dalam dan luas, tajuk yang
rimbun dan tumbuh lebih tinggi akan menguasai (mendominasi) tumbuhan lainnya.
Kompetisi ini terjadi karena perbedaan sifat dan habitus tumbuh seingga
memunculkan persaingan diantara individu-individu (jenis tumbuhan) dalam
spesies tumbuhan yang sama (intra
spesific competition atau kompetisi intra spesifik) dan juga memunculkan
persaingan diantara individu-individu (jenis tumbuhan) dalam spesies tumbuhan
yang berbeda (inter spesific competition atau
kompetisi inter spesifik).
Gulma lebih mudah bertumbuh dan berkembang dalam kondisi tertentu seingga menghambat pertumbuhan gulma perlu diketahui penanganan gulma yang lebih efektif dan efisien. Tanaman utama/pokok sering kali kalah bersaing dengan gulma dikarenakan gulma lebih tinggi dan rimbun tajuknya serta lebih luas dan dalam sistem akarnya.
1. Periode
Kritis
Tanaman
memiliki selang waktu tertentu dimana tanaman tersebut sangat peka terhadap
adanya gulma. Keberadaan atau munculnya gulma pada periode waktu tertentu
dengan kepadatan tertentu dengan tingkat ambang kritis akan menyebabkan
penurunan hasil/produksi secara nyata. Periode waktu dimana tanaman peka
terhadap persaingan dengan gulma dikenal sebagai periode kritis tanaman.
Periode kritis juga dapat diartikan sebagai periode maksimum dimana periode
tersebut dilalui maka keberadaan gulma selanjutnya tidak lagi terpengaruh
terhadap asil akhir atau produksi. Dalam periode kritis, adanya gulma diantara
tanaman penting sekali untuk dikendalikan agar tidak memberi pengaruh negatif
terhadap pertumbuhan dan asil akhir tanaman tersebut.
Periode
kritis terjadi ketika adanya periode dimana tanaman pokok/utama sangat peka
atau sensitif terhadap persaingan dari gulma. Jika dalam periode kritis ini
tidak dikendalikan dengan baik maka tanama pokok akan menurun hasilnya. Secara
umum persaingan gulma terhadap persaingan terjadi dan terparah saat 25-33%
pertama pada siklus hidupnya atau 1/4 – 1/3 pertama dari umur pertanaman.perlu
diketahui bahwa persaingan guma diawal pertumbuhan tanaman akan menurunkan
kualitas hasil panen, dan jika gangguan gulma muncul menjelang panen akan sangat
berpengaruh besar terhadap kualitas hasil yang dipanen. Gulma yang muncul atau
berkeamba lebih dahulu atau bersamaan dengan tanaman yang dikelola dapat
berakibat besar terhadap pertumbuhan dan hasil panen. Sedangkan gulma yang
berkecambah (2-4 minggu) setela tanaman pokok/utama sudah bertumbu maka sedikit
pengaruhnya. Tetapi yang paling penting adalah agar gulma dikendalikan atau
dibasmi seingga tidak mengganggu tanaman pokok.
Periode kritis suatu tanaman menjadi penting diketahui untuk ketepatan penyiangan atau pengendalian seingga dapat menguntungkan petani-peternak sehingga frekuensi tumbuh gulma dapat terbatas. Jika periode kritis diketahui maka tidak harus seluruh siklus hidup gulma dikendalikan. Pengetahuan terhadap periode kritis dapat membantu dan menekan biaya, tenaga, dan waktu dalam memelihara tanaman pokok/utama.
2. Allelopati
Tumbuhan dapat menghambat pertumbuhan tanaman disekitarnya dengan cara mengekresikan senyawa kimia bersifat toksik. Interaksi ini dapat mengganggu tanaman lain untuk perkkecambahan biji menjadi abnormal, pertumbuhan akar terhambat ataupum terjadi kematian akar tanaman, dan lain sebagainya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat racun atau toksik dari satu tumbuhan ke tumbuhan lain disekitarnya disebut allelopati. Sedangkan zat toksik atau racun disebut allelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol.
Beberapa literatur menjelaskan bahwa tidak semua jenis gulma mampu mengekskresi allelopat. Beberapa spesies gulma yang memiliki sistem allelopat seperti alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela, dan lain sebagainya. Secara umum allelopati memiliki korelasi terhadap tanaman pangan yang dapat ditimbulkan penggunaan mulsa pada beberapa jenis tanaman, rotasi tanaman, dan pada regenerasi hutan.
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bedasarkan pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Interaksi
spesies merupakan suatu kejadian yang wajar didalam suatu komunitas,
2. Semua
makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu
akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik
individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain.
3. Macam-macam
interaksi spesies adalah sebagai berikut :
- Kompetisi
- Endimis serpentin
- Halofit
- Kompetisi dan Niche
- Amensalisme
- Interaksi Alelokemis pada Level Produser-Dekomposer
- Alalopati
- Alelokemis pada Level Produser –Herbivora
- Interaksi antara Tumbuhan Epifit dengan Inangnya
- Interaksi antar Tali Putri dengan Inangnya
a.
Periode kritis
b.
Alelopati
B. Saran
Bagi para pembaca yang ingin mengetahui lebih jelasnnya mengenai interaksi spesies, agar mencari lagi referensi yang lain karena tidak dapat kami pungkiri bahwa dalam pembuatan makalah ini, masih banyak kekurangan yang perlu disempurnakan.
DAFTAR PUSTAKA
Tarumingken
C. Rudy. 1994. Dinamika populasi. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.
Budy
wilarso Sri. 2007. Interaksi
tumbuhan dan factor pembatas. Erlangga: jakarta.
Dwidjoseputro. 1991. Ekologi Manusia dengan Lingkungannya. Jakarta : Erlangga.
Fellyanus Haba Ora. 2019. Padang Penggembalaan Daerah Tropis. Yogyakarta : Deepublish.

EmoticonEmoticon