27 Oktober 2024

Skala Waktu Evolusi: Metode Penentuan Waktu, Pemisahan Waktu Geologi

 


BAB 1

PENDAHULUAN

            A.    Latar Belakang

Menurut teori, bumi terbentuk karena kondensasi gas yang ada dalam tata surya. Pada waktu proses tersebut terjadi, diperkirakan ada benturan dengan suatu bintang lainnya, sehingga gas tersebut terpecah menjdi gumpalan gas yang lebih kecil. Semua itu membentuk satu tata surya. Gumpalan terbesar menjadi matahari,  sedangkan sisanya menjadi planet , bulan dan meteorid. Akibat adanya perbedaan ukuran, maka gumpalan yang lebih kecil dapat berputar lebih cepat dibandingkan dengan gumpalan yang besar., sehinggga ukuran gas akan menentukan rotasi suatu planet atau bulan, yang akan terbentuk.

Skala waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan untuk menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah bumi, dimana bumi diperkirakan telah berumur sekitar 4.570 tahun. Waktu geologi bumi disusun menjadi beberapa unit menurut peristiwa yang terjadi pada tiap periode. Masing-masing zaman pada skala waktu biasanya ditandai dengan peristiwa besar geologi atau paleontologi, seperti kepunahan massal. Sebagai contoh, batas antara zaman kapur dan paleogen didefinisikan dengan peristiwa kepunahan dinosaurus dan berbagai spesies laut. Periode yang lebih tua, yang tidak memiliki peninggalan fosil yang dapat diandalkan perkiraan usianya, didefinisikan dengan umur absolut.

Suatu batuan atau fosil dapat terbentuk di suatu tempat. Namun sejalan dengan waktu, benda tersebut dapat berpindah tempat. Dengan demikian, fosil suatu organisme dapat ditemukan di tempat yang tidak semestinya. Kekuatan utama yang mungkin dapat memindahkan fosil tersebut adalah aliran sungai. Sungai akan membawa suatu fosil atau batu dari daerah hulu ke hilir. Demikian pula sungai dapat membawa suatu fosil dari lapisan atasmenuju lapisan yang lebih tua, karena sungai dapat mengikis batuan sehingga akhirnya batuan tersebut semakin lama menjadi makin dalam. Hal lain yang dapat memindahkan suatu batuan atau fosil adalah adanya pelapukan dan pergeseran tanah.

 

            B.     Rumusan Masalah

1.      Apa-apa saja cara untuk mengetahui metode penentuan waktu?

2.      Bagaimana cara untuk menentukan jam radioaktif?

3.      Bagaimana cara untuk mengetahui jam DNA?

4.      Apa saja kegunaan dari mikrofosil?

5.      Bagaimana cara untuk menentukan pemisahan waktu geologi?

 

           C.    Tujuan

1.      untuk mengetahui apa-apa saja metode penentuan waktu

2.      untuk menentukan jam radioaktif

3.      untuk mengetahui jam DNA

4.      untuk mengetahui apa saja kegunaan dari mikrofosil

5.      untuk menentukan cara pemisahan waktu geologi


 

BAB II

PEMBAHASAN

           A.    Metode Penentuan Waktu

Dalam penentuan umur suatu batuan atau fosil, ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan, yaitu:

1.      Adanya kemungkinan pembasuhan

Akibat adanya pembasuhan, maka suatu batuan atau fosil berubah kandungan kimianya. Dengan demikian penghitungannya tidak cukup akurat.

2.      Adanya kemungkinan transportasi

Suatu batuan atau fosil dapat terbentuk di suatu tempat. Namun sejaalan dengan waktu, benda tersebut dapat berpindah tempat. Dengan demikian, fosil suatu organisme dapat ditemukan di tempat yang tidak semestinya. Kekuatan utama yang mungkin dapat memindahkan fosil tersebut adalah aliran sungai. Sungai akan membawa suatu fosil atau batu dari daerah hulu ke hilir. Demikian pula sungai dapat membawa suatu fosil dari lapisan atasmenuju lapisan yang lebih tua, karena sungai dapat mengikis batuan sehingga akhirnya batuan tersebut semakin lama menjadi makin dalam. Hal lain yang dapat memindahkan suatu batuan atau fosil adalah adanya pelapukan dan pergeseran tanah. Akibat adanya pelapukan, maka suatu fosil yang sebelumnya berada pada lapisan yang dalam menjadi terdedahkan karena batuan  diatasnya tersingkap oleh kekuatan alam. Setelah terdedahkan, maka ada faktor luar yang menyebabkan fosil yang sudah terdedahkan tersebut berpindah tempat. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan penentuan umur suatu batuan atau fosil menjadi tidak akurat. Untuk mendeteksi adanya transportasi biasanya dilakukan analisis geomagnetik.

Penentuan umur biasanya tidak pernah tepat, mengingat banyaknya faktor luar ynag dapat berperan. Oleh karena itu, simpangan baku umur suatu fosil biasanya cukup lebar. Misalnya fosil Homo erectus  dari sangiran diduga berumur 250.000 tahun. Menurut penelitian di tahun 1997, salah satu fosil berumur sekitar 27.000 tahun dan paling tua berumur 54.000 tahun. Kisaran antara 27.000 tahun ke 54.000 tahun maupun 250.000 tahun adalah sangat besar, sehingga sulitlah kiranya membuat perkiraan umur rata-rata.    

       B.     Jam Radioaktif

Penentuan umur suatu lapisan atau suatu fosil dapat juga didasarkan atas perbedaan masuk dan keluarnya suatu senyawa radioaktif dari dalam tubuh. Di alam terdapat sejumlah zat radioaktif yang kita hirup dan dikeluarkan sehari-hari tanpa menyebabkan adanya gangguan. Karena zat radioaktif tersebut tidak diakumulasi oleh tubuh, maka jumlah zat radioaktif di dalam maupun di luar tubuh akan tetap. Namun apabila kita mati, maka tidak terdapat transpor zat radioaktif tersebut baik masuk maupun keluar. Akibatnya jumlah zat radioaktif tersebut akan menurun sejalan dengan waktu paruh zat radioaktif tersebut. Ada zat radioaktif yang meluruh dalam skala jam, hari, tahun, abad maupun yang memakan waktu berabad-abad. Mengingat bahwa volume tubuh dibandingkan dengan volume alam, maka perubahan jumlah zat radioaktif di alam relatif konstan tidak berubah. Dengan membandingkan jumlah yang terdapat di dalam tubuh dengan jumlah yang ada di alam per volume, maka kita dapat memprediksi umur zat radioaktif tersebut.

Demikian pula halnya dengan zat radioaktif yang terdapat daalm lapisan batuan, dapat diperlakukan serupa, meskipun ada faktor koreksi, mengingat batuan tertentu sudah lama berada di muka bumi dibandingkan dengan data fosil.

Selain itu haruslah kita perhatikan, zat radioaktif apa yang meluruh dan apa yang dihasilkan. Jadi selain menghitung jumlah bahan yang meluruh, juga harus dihitung perbandingan antara zat asal dengan zat yang dihasilkan.

Adapun rumus untuk menghitung perkiraan umur suatu batuan/fosil adalah:

 

t           = umur

I           = peluruhan

NO         = jumlah zat radioaktif waktu batuan dibentuk dan

N         = jumlah zat radioaktif sekarang.

NR          = NO – N

            Contoh : apabila 3 % 87Rb dalam batuan telah berubah menjadi 87Sr, maka umur batuan tersebut adalah

t = 1/1,42 x 10-11x1n (1+3%) = 2,08 x 109 tahun

 

tabel 1.1

Zat Radioaktif yang Digunakan dalam Menentukan Umur Batuan/Fosil

Isotop

Peluruhan x 10-11 th

Waktu paruh

Radiogenik isotop

14C (Karbon)

40K (Potasium)

87Rb (Rubidium)

147Sm (Sumarium)

232Th (Thorium)

235U (Uranium)

238U (Uranium)

1,2 x 107

5, 81 + 47,2

1,42

0,654

4,95

98,485

15,5125

5,73 x 103

1,3 x 109

4,86 x 1010

1,06 x 1011

1,39 x 1010

7 x 108

4,4 x 109

14N

40Ar + 40Ca

86Sr

143Nd

208Pb

207Pb

206Pb

 

           C.    Jam DNA

Karena suatu organisme yang sudah menjadi fosil hingga kini masih sulit sekali di ekstraksi DNA-nya, maka kita hanya dapat menggunakan organisme yang masih hidup. Dari skala waktu geologi, maka kita dapat memperkirakan kapan suatu organisme muncul dan kapan organisme lainnya muncul. Misalnya ikan sudah berada jauh sebelum amfibi apalagi primata. Dalam kurun waktu yang begitu jauh berbeda, maka kita dapat menghitung berapa besar perubahan dalam susunan DNA yang telah terjadi. Karena kita dapat menghitung berapa kecepatan mutasi suatu organisme, maka kita dapat menghitung berapa lama perbadaan umur antara dua organisme. Untuk dapat menggunakan jam DNA, ada suatu pengetahuan dasar yang diperlukan, karena kecepatan mutasi suatu bagian DNA tidak sama. Ada gen yang bermutasi sangat cepat dan ada gen yang bermutasi sangat lambat. Dalam kaitan ini, pada dasarnya kita akan menggunakan daerah DNA yang konservatif. Gen yang sangat konservatif baik untuk menentukan perbedaan umur dari dua organisme yang berkerabat jauh, misalnya antara kera dan manusia, sedangkan gen yang tidak terlalu konservatif baik untuk menentukan perbedaan antar populasi.

Dari beberapa rantai DNA homolog yang kita bandingkan, maka selain adanya perbedaan, kita akan menjumpai kesamaan untuk sejumlah asam nukleat. Jadi misalnya dari sekian banyak rantai DNA yang kita analisis terdapat asam nukleat no 23,45 dan seterusnya yang identik untuk semua. Hal ini memberikan gambaran kepada kita, bahwa asam nukleat no 23,45 dan seterusnya seharusnya sama juga untuk nenek moyang. Apabila ada satu rantai DNA yang berbeda untuk asam nukleat no 23, maka kita dapat menduga bahwa pada rantai DNA itu mengalami mutasi. Dengan demikian, kita dapat melakukan rekonstruksi mengenai bagaimana rupa rantai DNA nenek moyang. Dari hasil tersebut, maka kita dapat menentukan tiga hal :

·         Pertama adalah berapa banyak mutasi yang terjadi dibandingkan dengan rantai DNA nenek moyang.

·         Kedua adalah berapa besar perbedaan antara satu rantai dengan rantai yang lain.

·         Hal terakhir yang dapat segera kita tentukan adalah apakah ada mutasi yang spesifik untuk suatu populasi

Dengan pengetahuan tersebut, data yang kita miliki dapat dikalibrasikan dengan kecepatan mutasi gen tersebut. Kalibrasi dapat kita lakukan dengan melihat data fosil. Misalnya kapan burung mulai muncul dan kapan organisme lain mulai muncul. Perbedaan waktu tersebut menunjukkan rentang umur. Kalau ada 10 mutasi per rentang umur 10.000 tahun, maka kecepatan mutasi adalah 1 mutasi per 1000 tahun. Dari data yang kita analisis, maka kita dapat menghitung berapa kecepatan evolusi dengan menggunakan data DNA.

           D.    Penggunaan Mikrofosil

Mikrofosil adalah fosil yang berukuran kecil dan untuk mempelajarinya diperlukan alat bantu optik seperti mikroskop. Mikropalenteologi adalah cabang ilmu palenteologi yang khusus membahas semua sisa-sisa organisme yang biasa disebut mikrofosil. Mikropalenteologi membahas tentang mikrofosil, klasifikasi, morfologi, ekologi dan mengenai kepentingannya terhadap stratigrafi.

Sedangkan pengertian mikrofosil menurut jones (1936), mikrofosil adalah fosil yang berukuran kecil, dimana untuk mempelajari sifat-sifat dan strukturnya dilakukan dibawah mikroskop. Umumnya fosil mikro berada di dalam fosil yang ukurannya lebih dari 5 mm, namun ada yang berukuran sampai 9 mm seperti genus fusulina.

Kebanyakan fosil ditemukan dalam batuan endapan (sedimen) yang permukaannya terbuka. Batu karang yang mengandung banyak fosil disebut fosiliferus. Tipe-tipe fosil yang terkandung di dalam batuan tergantung dari tipe lingkungan tempat sedimen secara ilmiah terendapkan. Sedimen laut, dari garis pantai dan laut dangkal, biasanya mengandung paling banyak fosil.

Fosil terbentuk dari proses penghancuran peninggalan organisme yang pernah hidup. Hal ini sering terjadi ketika tumbuhan atau hewan terkubur dalam kondisi lingkungan yang bebas oksigen. Fosil yang ada jarang terawetkan dalam bentuknya yang asli. Dalam beberapa kasus, kandungan mineralnya berubah secara kimiawi atau sisa-sisanya terlarut semua sehingga digantikan dengan cetakan.

Kegunaan mikrofosil antara lain sebagai berikut:

1.      Kegunaan fosil foraminifera

Fosil foraminifera sering dipakai untuk memecahkan problem geologi terutam bagi perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi. Zonasi foraminifera planktonik merupakan salah satu zonasi mikrofosil yang cukup teliti untuk kepentingan penentuan umur. Zonais fosil yang ketelitiannya lebih kurang setara dengan zonasi ini adalah zonasi nannoplankton gampingan. Fosil nannoplankton gampingan mempunyai ukuran yang fantastik kecil (3-40 mikron). Karena itu dalam pengamatannya diperlukan mikroskop dengan perbesaran minimum 5000 x bahkan 20.000 kali.

Kegunaan fosil foraminifera antara lain :

Ø  Untuk menentukan umur batuan yang mengandungnya.

Ø  Membantu dalam studi lingkungan pengendapan atau fasies.

Ø  Korelasi stratigrafi dari suatu daerah dengan daerah lain, baik korelasi permukaan atau bawah permukaan.

Ø  Membantu menentukan batas-batas suatu transgresi dan regresi, misalnya dengan menggunakan foraminifera bentos Rotalia beccarii (fosil penciri daerah transgresi), Gyroidina soldanii (fosil penciri batial atas) dan lain-lain.

Ø  Untuk penyusunan satuan biostratigrafi.

2.      Fosil indeks/fosil penunjuk/fosil pandu

Fosil yang digunakan sebagai penunjuk umur. Pada umunya jenis fosil ini mempunyai penyebaran vertikal yang pendek dan penyebaran lateral luas serta mudah dikenal.

3.      Fosil batimetri/fodil kedalaman

Fosil yang dapat digunakan untuk menentukan lingkungan kedalaman.

Pada umumnya yang dipakai adalah foraminifera bentos yang hidup di dasar laut.

4.      Fosil horison/fosil lapisan/fosil diagnostik

Fosil yang mencirikan atau khas terdapat di dalam lapisan yang bersangkutan. Contohnya  Globorotalia tumida (penciri N.18).

5.      Fosil lingkungan

Fosil yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk lingkungan sedimentasi. Contohnya Radiolaria sebagai penciri laut dalam.

6.      Fosil iklim

Fosil yang dapat digunakan sebagai penunjuk iklim pada saat itu. Contohnya Globigerina pachiderma.

           E.     Pemisahan Waktu Geologi

Waktu geologi dipisah-pisahkan atas sejumlah eon, era (3-4), periode, kurun atau epok dan formasi atau masa. Walaupun demikian, kurun dan farmasi tidak banyak dipakai dalam buku-buku, kecuali untuk era senosoik. Suatu era dapat menyangkut banyak periode, dan satu periode dapat terdiri dari beberapa kurun dan seterusnya.

Keberadaan fosil pada dasarnya menunjukkan kapan fosil suatu organisme mulai ada dalam lapisan tanah. Namun keberadaan suatu organisme dalam bentuk fosil tidak menjamin bahwa organisme tersebut baru muncul. Hal ini disebabkan oleh individu yang menjadi fossil jumlahnya sangat sedikit kalau dibandingkan dengan organisme yang ada. Dari 5 miliar manusia yang hidup di muka bumi sekarang, belum tentu ada satu orang pun yang menjadi fosil. Selain itu, bahwa dengan adanya kemungkinan transportasi, menyebabkan suatu fosil dapat berada dalam lapisan yang lain. Adanya celah dalam profil fosil dapat memberikan petunjuk adanya transportasi, namun adanya celah pada awal keberadaan suatu kelompok dapat mencerminkan sedikitnya anggota kelompok tersebut pada waktu itu. Meskipun awal keberadaan suatu organisme dapat ditunjukkan oleh keberadaan fosilnya, besar kemungkinan bahwa organisme tersebut sudah ada jauh sebelumnya, tetapi tidak ada yang menjadi fosil.

Pembagian waktu geologi umumnya didasarkan atas macam-macam fosil dominan yang ditemukan, dan bukan atas lamanya suatu Eon, Era, atau Periode. Suatu periode dan kurun biasanya dibagi lagi atas bagian yaitu : atas, tengah dan bawah, atau awal, tengah dan akhir,  namun hal ini dilakukan untuk setiap pembagian waktu yang ada. Pembagian yang lebih kecil, pada dasarnya akan sangat berbeda dari daerah ke daerah. Misalnya ada formasi trinil atau formasi sampung dan lain-lain di jawa tengah. Penamaan suatu lapisan biasnya dikaitkan pula dengan tempat fosil dan macam batuan tersebut ditemukan.

Selain fosil dan waktu (umur), skala waktu geologi dapat memberikan gambaran yang cukup lengkap mengenai hal-hal lainnya. Tetapi apabila semuanya digabarkan, maka dibutuhkan suatu lembaran yang relatif besar. Oleh karena itu, hanya digambarkan hal-hal yang penting saja, misalnya kehidupan darat dan laut, kepunahan, glasiasi dan cuaca secara umum serta sedikit mengenai pergesaran benua.


Tabel 1.2.


Data fosil dari sejumlah kelompok organisme dan waktu munculnya di permukaan bumi

Keterangan  :

TS        = Tetraspora                                        IN        = Insecta

SU       = Spora organisme uniseluler              KA      = Kalajengking

CU      = Kutikula                                           LA       = Laba-laba

JI         = Jaringan ikat                                    TR       = Trigonatarbidae

JA        = Jamur Ascomycetes                         UL       = Ular

OL       = Oligochaeta                                      AM      = Amfibia

CH      = Chilopoda                                        RE       = Reptilia

AC      = Acarina                                            VH      = Vertebrata herbivora

CO      = Collembola


BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Sistem tata surya kita mungkin terbentuk 4.600 juta tahun yang lalu, dari gumpalan materi gas di angkasa luar yang berputar dan akhirnya memadat. Akibat benturan dengan bintang lain, maka terbentuklah planet-planet dengan bulan-bulannya. Pendinginan bumi tidak terjadi secara serempak, sehingga mengakibatkan adanya daratan dan gunung yang tinggi. Karena ketidakrataan pendinginan, maka daratan berpindahpindah seperti berlayar dari satu tempat ke tempat yang lain. Selama 1500 juta tahun lamanya bumi belum berpenghuni dan selama 2000 juta tahun setelah bumi terbentuk, pada umumnya baru dihuni organisme bersel satu. Kehidupan di darat baru muncul sekitar 425 juta tahun yang lalu. Kehidupan di daratan tersebut dimulai dengan munculnya serangga dan tumbuh-tumbuhan rawa. Meskipun Vertebrata sudah mulai ada sekitar 500 juta tahun yang lalu, namun manusia baru muncul sekitar 4,8 juta tahun yang lalu. Lamanya keberadaan manusia di muka bumi tidak berarti banyak dibandingkan dengan umur bumi. Walaupun demikian, manusia penyebab paling banyak perubahan.  Untuk mengkaji hal-hal yang telah terjadi ribuan tahun digunakan sejumlah metode, antara lain zat radioaktif untuk menghitung waktu, korelasinya dengan batuan, dan tempat, maka para ahli menyusun Waktu geologi yang menggambarkan juga bagaimana dinamika permukaan bumi dan segala isinya sejalan dengan waktu. 

B.     Saran

Evolusi akan lebih mudah di pelajari apabila memiliki banyak referensi buku atau pun bacaan lain baik dari artikel dan lain sebagainya. Pada pembahasan mengenai skala waktu tersebut diharapkan para pembaca mampu menambah pengetahuan dan dapat lebih mudah dalam memahami materi mengenai skala wkatu tersebut, sehingga para pembaca dapat menambah wawasan mengenai teori evolusi dan mengenai mata kuliah evolusi itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA 

Chaloner. 1994. Evolution and Extinction. Cambridge University Press

Futuyma. 1979. Evolutionary Biology. Sinauer Associates Inc

Lina Nofita, Dkk. 2016. Pengembangan Web Based Experrt System dalam Identifikasi Mikrofosil Foraminifera sebagai Media Pembelajaran Paleontologi yang Aplikatif, Praktis dan Efektif. Jurnal Algoritma. Vol 10. No 1

Ridely. 1993. Evolution. Blackwell Scientific Publishing Inc

Syaifullah Fadhil Yuflih. 2013. Kegunaan Mikrofosil dalam Menentukan Lingkungan Pengendapan. Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia. Vol 1. No 1



EmoticonEmoticon